kasabat dan iktasabat

Kasabat dan Iktasabat, bagian 02/02

HAMKA,
Tafsir Al-Azhar, Juz III, Al-Baqoroh, Ayat 286

Apa kesan yang kita dapat di sini? Pertama
ialah bahwa suatu diri tidaklah dipikulkan oleh Tuhan beban yang tidak dapat dia
mengangkatnya. Maka segala perintah yang diperintahkan Tuhan mengerjakannya
hanyalah yang kuat diri itu memikulnya. Dan segala perintah mestilah untuk
maslahat diri itu, dan segala larangan ialah karena dia membahayakan bagi diri.
Dan dengan dipelopori oleh iman, diri dianjurkan berusaha. Dalam jiwa sendiri
ada perasaan-perasaan baik dan perasaan-perasaan buruk. Yang baik ringan bagi
diri memikul dan mengusahakannya (kasabat), dan beroleh pahala kalau telah
dikerjakan. Adapun yang buruk, maka jiwa murni berat dan sulit mengerjakannya.
Orang yang memperturutkan hawa nafsunya, terpaksa terlebih dahulu membutakan
akal-budi, maka selalulah terjadi pertentangan di antara hawa nafsunya itu
dengan hati sanubarinya. Sebab itu, segala usaha jahat adalah iktasabat, membuat payah, tekanan batin,
penyesalan dan murung. Dari sini mendapatlah kita suatu kesan yang mendalam
bahwa Khilqoh, yaitu kejadian asli
manusia adalah baik dan bercita baik. Jahat tidaklah diingini oleh manusia, dan
perintah yang dipikulkan Tuhanpun sesuai dengan keaslian jiwa manusia itu. Kalau
manusia terlanjur berbuat jahat, maka siksa pertama yang diterimanya ialah
siksaan tekanan batinnya sendiri. Dan kalau dia berbuat baik, berusaha baik,
pahala yang mula diterimanya ialah kepuasan batin, sebab dia -sebagai manusia-
telah berlaku sebagaimana wajibnya manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s