AGAMA ISLAM

 

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Setiap agama mempunyai karakteristik dan substansi yang membedakannya dari agama-agama yang lain. Apa sajakah karakteristik dan substansi ajaran islam? Agama yang kita dakwahkan dengan sungguh-sungguh dan diharapkan bisa menyelamatkan dunia yang telah terpecah-pecah dalam beberapa blok yang saling mengintai dan dilanda berbagai krisis yang belum diketahui bagaimana cara mengatasinya?

Oleh pembahasan yang terbatas lingkup dan halamannya ini. Kami mengkaji karakteristik dan substansi islam, yang membuatnya menjadi risalah Tuhan yang terakhir dan menjadi agama yang diridhoi Allah untuk dunia dan seluruh umat manusia sampai datangnya hari kiamat.

Oleh karena itu, di sini kami mencakupkan diri untuk membahas secara ringkas beberapa karakteristik dan substansi yang dimiliki islam. Yaitu mengajarkan kesatuan agama , kesatuan politik, kesatuan sosial, agama yang sesuai dengan akal dan fikiran, agama fitrah dan kejelasan, agama kebebasan dan persamaan, serta agama kemanusiaan. Karena semua karaktristik dan substansi inilah islam merupakan agama untuk seluruh alam yang rahmatan lil alamin. Islamlah yang menetapkan hak-hak manusia.

2. Rumusan Masalah

A. Definisi Islam

B. Macam-Macam Arti Atau Makna Islam

C. Karakteristik Ajaran Islam

D. Substansi Islam

BAB II
 
PEMBAHASAN

A. Definisi Islam

Dari segi kebahasaan Islam berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata “salima” yang mengandung art selamat,sentosa dan damai. Dari kata “salima” yang selanjutnya diubah menjadi bentuk aslam yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. (Prof.Dr. H. Abuddin Nata,M.A. 2004. Hlm.61-62)

Islam adalah agama kebenaran, melingkupi segala kode kehidupan, yang diwahyukan oleh Tuhan Yang Maha Menciptakan dan penguasa Seluruh Alam kepada manusia agara dijadikan tuntunan hidup. (Khurshid Ahmad dkk.1989. hlm. 14)

Dengan itu maka islam pada asasnya adalah agama perdamaian dan ajarannya yang pokok adalah keesaan Tuhan dan keesaan semua umat manusia. (H.A. Mukti Ali. 1990. Hlm. 50)

Nama islam bukan nama yang lahir berdasarkan nama pendirinya seperti agama budha karena tokoh yang mendirikan Budha adalah Budha Gautama atau yang lainnya. Nama islam bukan berdasarkan nama tempat kelahiran tokoh seperti halnya agama Hindu karena lahir di India, Hindia, Hindustan, yakni lembah atau seberang sungai Indus juga bukan berdasarkan kebangsaan, kesukuan atau dinasti. Tetapi nama Islam itu khusus pemberian dari Allah dan telah menjadi nama sebuah Rasul terkhir. Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Bukanlah sebuah agama yang baru karena semua agama yang diturunkan dari Allah SWT. Memiliki nama Islam yang intinya adalah “ menyerahkan diri secara bulat hanya kepada Allah”. Para nabi atau para Rasul sebelumnya juga beragama Islam. Karena bertauhid pada yang satu yaitu kepada Allah SWT. Jadi Islam merupakan agama yang universal ,karena berasal dari Dzat yang menguasainya, mengatur dan memelihara sekalian alam. Ajaran islam dimaksudkan untuk seluruh umat manusia bukan hanya untuk kelompok tertentu saja, karena nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia dimana diterangkan dalam Q.S Al-Anbiya’ ayat 107 yang artinya “ Dan Kami tidak mengutus engkau wahai Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (Prof.Dr.Muhaimin.2005. hlm.66-67). Syariat islam merupakan ajaran islam yang mengajarkan amalan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah maupun hamba Allah S.W.T. Islam juga berarti mentauhidkan Allah, patuh dan tunduk kepada-Nya serta mematuhi semua ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W dan Islam mencakup antara Aqidah-Syariat-Akhlak.

B. Macam-Macam Arti Atau Makna Islam

Karena Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin maka universalitas ajaran Islamdapat pula ditempuh melalui analisis dan kajian tentang pengertian islam, karena yang pertama-tama menjadi sumber ide tentang universitas Islam adalah pengertian islam itu sendiri. Kata Islam mengandung arti dan makna yang bermacam-macam tetapi mengandung satu kesatuan makna diantaranya meliputi:

a. Pertama, “Islam” berasal dari kata al-salamu , al-salmu dan al-sihmu yang berarti: menyerahkan diri, pasrah, tunduk dan patuh. Dengan demikian Islam mengandung sikap penyerahan diri, pasrah, tunduk dan patuh dari manusia terhadap Tuhannya atau makhluk terhadap sang Khalik, Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini diterangkan Dalam Q.S Fushilat:11, Q.S An-Nahl:49 juga Q.S Al-Imron:83. Menjalankan ajaran Islam bagi umat manusia adalah sama nilainya dengan berjalannya alam mengikuti hukum-hukumnya sendiri yang ditetapkan oleh Allah. Bagi Manusia yang melanggarnya maka akan mengakibatkan kesengsaraan dan malapetaka, baik bagi umat manusia itu sendiri maupun alam sekitarnya terdapat dalam Q.S. Fathir:39.(Prof.Dr.Muhaimin.2005. hlm.70-71).

b. Kedua, islam berasal dari kata al-silmu atau as-salmu yang berarti damai atau aman. Hal ini mengandung makna bahwa orang yang beragama islam berarti orang yang masuk dalam perdamaian dan keamanan. Seorang muslim adalah orang yang membuat perdamaian dan keamanan dengan Tuhannya, manusia ,dirinya sendiri dan alam. Damai dengan tuhan berarti tunduk dan patuh secara menyeluruh kepada segala kehendak-Nya. Dengan kepasrahan kepada Tuhan maka seseorang akan mampu mengembangkan seluruh kepribadiannya secara menyeluruh untuk berdamai dan membuat kedamaian serta keamanan di muka bumi ini. Hal ini disebabkan karena Allah mengajarkan kepada umat manusia. Untuk menciptakan perdamaian dan keamnan di muka bumu seperti dalm Q.S Al-Baqoroh:208. Dengan memerhatikan substansi ajarannya dan realitas sejarah dari dakwah Nabi Muhammad SAW. Maka merupakan tugas Islam untuk menciptakan perdamaian di dunia ini dengan menegakkan persaudaraan semua agama di dunia, menghimpun kebenaran yang terdapat dalam agama yang dulu, membetulkan ajaran yang salah, mengganti yang palsu dengan yang benar, mengajarkan kebajikan yang abadi yang dulu belum pernah diajarkan dan akhirnya perlu sekali mengajarkan tuntunan moral dan spiritual bagi kemajuan umat manusia. (Prof.Dr.Muhaimin.2005. hlm.72-74).

c. Ketiga, “Islam” berasal dari kata-kata as-salmu dan salamatu yang berarti bersih dan selamat dari kecacatan-kecacatan lahir batin. Pengertian ini dapat difahami dari firman Allah dalam Q.S As-Syua’ra ayat 89 dimana manusia terdiri dari dua substansi yaitu jasad dan ruh. Jasad manusia itu tunduk , patuh dan pasrah kepada sunnatullah atau ajaran-ajaran Allah yang berlaku di alam sedangkan ruh manusia sudah melakukan perjanjian dengan Tuhan dan siap untuk tunduk, patuh dan pasrah kepada Allah. Semuanya ini merupakan fitrah dari manusi. Selama manusia senantiasa menjaga diri dan memelihara fitrahnya serta pilihannya mengarah kepada diri dan memelihara fitrahnya serta pilihannya mengarah pada pilihan pahalanya, maka dia akan selamat dan bersih dari kecacatan-kecacatan lahir dan batin serta selamat di dunia dan akhirat. Sebaliknya ,jika manusia dalam perjalanan hidupnya menyimpang dari fitrahnya dan pilihan hidupnya mengarah pada pilihan buruknya (dosa) maka dia akan sengsara, tidak selamat dan tidak bahagia hidupnya lahir batin dan dunia akhiratnya. (Prof.Dr.Muhaimin.2005. hlm.74-75)

Dari berbagai uraian di atas dapat difahami bahwa walaupun kata islam itu mempunyai arti atau makna yang banyak tetapi pada hakikatnya semua pengertian yang dikandung kata islam itu menunjuk pada pengertian umum yang mendasar dan lengkap serta menuju kepada yang satu yaitu penyerahan diri atau pasrah kepada Tuhan dengan bentuk dan realisasinya. Dengan demikian Islam adalah sikap hidup yang mencerminkan penyerahan diri,ketundukan,kepasrahan dan kepatuhan kepada Allah. Dengan sikap yang demikian akan dapat mewujudkan kedamaian, keselamatan, kesejahteraan serta kesempurnaan hidup lahir-batin dan selamat didunia serta akhirat.

Tauhid merupakan karakteristik yang menonjol dalam setiap agama yang dibawaoleh setiap rasul dari sisi Allah. Sebab agama berarti menghadapkan diri hanya kepada Allah, hanyamengikuti sistem Allah dalam segala urusan kehidupan, hanya menerima petunjuk dari Allah dalam urusan, berubadah hanya kepada allah dengan menaati sistemnya, syariatnya dan tatanannya, dan hanya beribadah kepada Allah. (Sayyid Qutb. 1990.hlm.239)

C. Karakteristik Ajaran Islam

Apabila meneliti sumber kepustakaan Islam yang ditulis oleh para cendekiawan atau para ulama, kita akan mengetahui bahwa ajaran-ajaran Islam memiliki karakteristik yang khas, yang berbeda dari ajaran-ajaran agama lainnya. Dimana karakteristik islam diantaranya meliputi:

a. Kesatuan Agama

Islam merupakan agama kesatuan , bukan agama tauhid semata. Kata tauhid telah mempunyai pengertian khusus yang tidak akan dilewatinya, yakni kepercayaan bahwa Tuhan itu Esa, menciptakan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada diantara keduanya dan kepada Allah-lah segala urusan itu dikembalikan. Pengertian ini merupakan kebalikan dari kepercayaan bahwa Tuhan itu dua atau banyak. Disamping itu , islam tidsak hanya meyerukan tauhid saja melainkan ia berlandaskan pada kesatuan dalam segala hal yang meliputi:segi ketuhanan, segi politik, segi sosial, segi-segi dunia dan kehidupan yang lain. Islam tidak hanya menetapkan kesatuan tentang Tuhan yang berhak disembah melainkan juga menjelaskan bahwa agama ini dengan agama-agama samawi yang sebelumnya merupakan satu kesatuan. Risalah allah bagi umat manusia bersifat universal, sebagaian yang satu melengkapi sebagian yang lain, sesuai dengan hulum perkembangan dalam pengajaran dan pendidikan. Karena semua agama itu semua menuju satu tujuan meskipun nerbeda-berbeda cara yang ditempuh untuk mencapainya, karena perbedaan waktu dan manusianya. (Prof. Dr.Muhammad Yusuf Musa. 1991.hlm.14-16)

b. Kesatuan Politik

Dari segi politik bahwa Allah telah menganugerahkan Islam kepada bangsa Arab. Mereka terdiri dari suku-suku yang mengalami disintegrasi. Sebagian yang satu memusuhi dan memerangi sebagian yang lain. Karena itu sejarah mengenal apa yang dinamakan “hari-hari arab” (ayyam al-‘arab), yakni peperangan mereka di zaman jahiliyah. Dari orang-orang arab ini secara nyata Islam telah membentuk satu ummat dengan satu pemimpin yang mengikuti satu politik dan mempunyai satu tujuan yaitu menyebarkan agamayang hak kepada umat manusia seluruhnya untuk dijadikan petunjuk jalan mereka menuju kebaikan di dunia dan akhirat. Kesatuan politik yang diajarkan Islam itu dipraktekkan oleh Nabi Muhammmad dan para pengikutnya, antara lain mempunyai pengaruh pada waktu pemilihan khalifah yang pertama. (Prof. Dr.Muhammad Yusuf Musa. 1991.hlm.17-18)

c. Kesatuan Sosial

Kita melihat kesatuan yang ditetapkan Islam dalam segi sosial ini telah mencapai satu tingkatan yang mengagumkan dan menjadi contoh yang menantang sejarah dan umat manusia seluruhnya. Di India umpamanya tempat persemaian salah satu agama dunia yang tertua ,kita melihat agama Hindu Brahma membagi-bagi para pemeluknya ke dalam empat kasta. Kaum Brahmana menempati kasta tertinggi dan rakyat jelata (Paria) menempati kasta terendah. Sedangkan dalam Islam tidak mengenal adanya kasta dalm pembagian masyarakat sosialnya. Karena pada hakekatnya manusia itu semua sama dihadapan Allah yang membedakan hanya ketaqwaannya kepada Allah. Itulah indahnya Islam. (Prof. Dr.Muhammad Yusuf Musa. 1991.hlm.19)

d. Agama Akal dan Fikiran

Islam adalah agama akal dan fikiran. Ha ini tidak dapat diragukan lagi dan mendapat kesaksian dan Al-Qur’an dan Rasul yang dalam banyak ayat dan hadistnya menguatkan kedudukan akal. Hal ini juga ditunjukkan oleh akidah-akidah dan pokok-pokok ajaran yang dibawa agama Islam.

Banyak ayat Al-Qur’an yang dengan keras menyuruh mencampakkan taklid kepada para pendahulu, nenek moyang dan tokoh-tokoh yang lain. Dalam surat Luqman, Allah mencela orang yang membantah keesaan Allah dan ajaran yang dibawa Rasul tanpa berdasarkan ilmu dan bukti yang kuat, hanya karena mengikuti warisan nenek moyang.

Jika di dalam Al-Qur’an , Allah melarang taklid dan mencela orang-orang yang melakukannya, maka di dalam banyak ayat Dia menyuruh untuk menggunakan akal, perhatian dan fikiran sebagai jalan untuk mencapai kebenaran dan iman yang benar kepada Pencipta yang Esa dan seluruh ajaran yang dibawa Rasul-Nya.

e. Agama Fitrah dan Kejelasan

Islam, disamping mempunyai karakteristik-karakteristik tersebut di depan, juga berkarakteristik sebagai agama fitrah dan kejelasan. Fitrah yang sempurna dan sejati, dan kejelasan yang tidak membuat akal mengalami kesuliatan untuk memahami ajaran-ajarannya. Karena itu, Islam berbicara kepada akal , hati dan intuisi secara bersamaan.

Islam dalam segi akidah hanya menyuruh kita untuk menyembah satu Tuhan, yang tidah beranak dan tidak mempunyai sekutu di dalam kekuasaan-Nya. Dia tidak mengatakan ada dua tuhan yang salang bertengkar, seperti yang dikatakan agam dualistik yang menyatakan bahwa kehidupan itu merupakan pertarungan yang terus menerus antara tuhan kebaikan dengan tuhan kejahatan.

f. Agama Kebebasan dan Persamaan.

Islam menetapkan kebebasan dan persamaan dengan segala maam corak dan warnanya. Islam telah membebaskan manusia dari penyembahan berhala yang tidak bisa mengindera dan memberikan keuntukan dan bahaya kepada seseorang pun, juga mempersamakan seseorang dengan yang lainnya. Hanya saja dalam hal ketakwaan tidak.

D. Substansi Islam

Substansi dari agama islam terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Rosulullah saw. bersabda yang artinya : …Islam adalah bahwa engkau mengakui tiada Illah yang sebenarnya kecuali Alloh SWT. dan Nabi Muhammad, saw.adalah utusan Allah SWT, engkau menegakkan sholat, engkau menunaikan zakat, engkau berpuasa di bulan ramadhan, dan engkau beribadah haji ke baitullah jika mampu. (HR Muslim)

Rosulullah SAW Bersabda yang artinya: “islam adalah engkau yang mengabdi kepada Allah saja tidak menyekutu-Nya dengan suatu yang lain dalam pengabdian, engkau menegakkan sholat, engkau menunaikan zakat wajib, dan engkau berpuasa di bulan ramadhan. (HR muslim)

Islam tidak hanya terdiri dari beberapa perkara seperti yang di sebutkan dalam hadist diatas, karena islam itu sangat tegas, mencakup berbagai segi kehidupan. Yang disebut dua perkara dalam hadist diatas adalah landasan dari suatu bangunan yang disebut islam. Kita dikatakan mengabdi kepada Allah jika,

a. pertama, kita mengakui dan menetapkan Allah sebagai Rabb berkaitan dengan kedudukan dan perbuatanya seperti, penguasa alam semesta, pengatur, pemelihara, penentu halal dan haram, yang mengabulkan do’a dan lain-lain. Semuanya itu bagi Allah, mengakui dan menetapkan Allah sebagai Illah yang haq yang berkaitan dengan semua perbuatan kita seperti, berdo’a, cinta, takut, minta tolong, minta perlindungan, niat dalam seluruh amal, dan lain-lain yang semua itu hanya ditujukan hanya kepada Allah.

b. Kedua, kita membenarkan seluruh yang berasal dari Allah, contohnya yaitu yang berupa wahyu (Al Qur’an, Injil, Taurot, Zabur, Suhuf-Suhuf, dan lain-lain). Dan menolak salah satu kitab yang disebutkan diatas atau bahkan satu ayat saja maka akan merusak pengabdian kita kepada Allah.

c. Ketiga, kita menaati Allah. Ini berjenjang mulai dari yang paling ringan dan sepele sampai yang menyeluruh yakni semua yang dilakukan Rosulullah Saw.

Dalam sejumlah argumentasi substansi atau misi ajaran islam adalah pembawa rahmat untuk seluruh alam. Yang mana meliputi berbagai bidang diantaranya:

a. Bidang Sosial,
Islam memperkenalkan ajaran yang bersifat egaliter atau kesetaraan dan kesederajatan antara manusia dengan manusia lain.

b. Bidang Ekonomi,
Dimana dalam ekonomi bersendikan asas keseimbangan dan pemerataan. Dalam ajaran islam seseorang diperbolehkan memiliki kekayaan tanpa batas, namun dalam jumlah tertentu dalam hartanya itu dapat milik orang lain yang harus dikeluarkan dalam bentuk zakat, infaq dan shodaqoh.

c. Bidang Politik,
Terlihat dari perintah Al-Qur’an agar seorang pemerintah bersikap adil, bijaksana terhadap rakyat yang dipimpinnya, mendahulukan kepentingan rakyat daripada kepentingan dirinya, melindungi rakyat, memberikan keamanan dan ketentraman masyarakat.

d. Bidang Hukum,
Terlihat dari perintah Al-Qur’an QS.An-Nisa’ ayat 58 yang artinya “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menerapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya allah adalah maha mendengar lagi maha melihat”.

Ayat tersebut memerintahkan seorang hakim agar berlaku adil dan bijaksana dalam memutuskan perkara dengan tidak memandang perbedaan pada orang yang sedang berperkara.

e. Bidang pendidikan.
Hal ini terlihat dari ajaran islam yang memberikan kebebasan kepada manusia untuk mendapatkan hak-haknya dalam bidang pendidikan. Islam menganjurkan belajar dengan sungguh-sungguh dalam keadaan perang dan menuntut ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat serta melakukannya sepanjang hayat

HARI HARI ISTIMEWA

tidak ada hari istimewa kecuali yang diistimewakan Allah dan RasulNya. Tidak ada hari agung kecuali yang memang diagungkan oleh syariat yang mulia. Tidak ada hari spesial kecuali yang di dalamnya diisi dengan amal-amal kebajikan. Ada pun tahun baru, dia bukan apa-apa. Tidak ada nash, tidak pula pandangan ulama, yang menyebutnya sebagai hari istimewa. Begitu pula Valentine, Thanksgiving, April Mop, Halloween, dan semisalnya, yang merupakan budaya kaum kuffar.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوَاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali ‘Imran (3): 100)

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Kalian akan benar-benar mengikuti orang-orang sebelum masa kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai mereka melewati lubang dhabb (biawak gurun, pen) kalian pun akan mengikutinya.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda: “Siapa lagi?” (HR. Bukhari No. 3456, 7320, Muslim No. 2669, Ibnu Hibban No. 6703, Al Bazzar No. 8411, Al Hakim No. 106, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 5943, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 38531, dari Abu Hurairah, Ibnu ‘Asakir dalam Al Mu’jam No. 675)

Di sisi lain, Islam telah memiliki banyak hari istimewa bagi umatnya yang seharusnya membuat mereka bahagia dan bangga, yang selayaknya mereka nantikan kedatangannya karena di dalamnya memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki hari-hari lainnya. Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada kita semua…

Berikut ini adalah hari-hari istimewa yang ada dalam Islam, dan cukuplah kita dengan hari-hari istimewa milik kita sendiri.

1. Hari Senin dan Kamis

Apa saja keistimewaannya?

– Hari diperiksanya amal manusia

Dari Abu Hurairah Radhilallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ

Diperiksa amal-amal manusia pada setiap Jumat (baca: setiap pekan) sebanyak dua kali; hari senin dan hari kamis. (HR.  Muslim No. 2565)

– Hari dianjurkannya puasa

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Amal-amal manusia diperiksa setiap hari Senin dan Kamis, maka saya suka ketika amal saya diperiksa saat saya sedang berpuasa. (HR. At Tirmidzi No. 747, katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 747)

– Hari dibukanya pintu-pintu surga dan diampunkannya hamba

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, maka saat itu akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan: ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim No. 2565, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 411, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 6626)

– Senin adalah hari lahir, hari wafat, dan hari diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menerima wahyu pertama

Dari Abu Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Nabi ditanya tentang hari senin. Beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus menjadi rasul, atau diturunkan kepadaku (wahyu).” (HR. Muslim No. 1162)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa dia ditanya:

أَيِّ يَوْمٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ

Hari apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat? Beliau menjawab: “Hari senin.”(HR. Bukhari No. 1387)

– Kamis adalah hari yang nabi sukai untuk bepergian

Dari Ka’ab bin Malik Radhiallahu ‘Anhu:

ان رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا أراد أن يسافر لم يسافر الا يوم الخميس

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika hendak safar, Beliau tidak bersafar melainkan pada hari kamis.(HR. Ahmad No. 27178. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 27178)

– Kamis adalah hari disebarkannya Ad Dawwab (hewan)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ

Allah membanyakkan Ad Dawwab di bumi pada hari Kamis.(HR. Muslim No. 2789)

2. Hari Jumat

Apa saja keistimewaannya?

–  Dijelaskan dalam riwayat berikut lima keutamaannya:

عَنْ أَبِي لُبَابَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُنْذِرِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الْأَيَّامِ وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَهُوَ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ فِيهِ خَمْسُ خِلَالٍ خَلَقَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ وَأَهْبَطَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيهِ تَوَفَّى اللَّهُ آدَمَ وَفِيهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا الْعَبْدُ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ حَرَامًا وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ مَا مِنْ مَلَكٍ مُقَرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيَاحٍ وَلَا جِبَالٍ وَلَا بَحْرٍ إِلَّا وَهُنَّ يُشْفِقْنَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Dari Abu Lubabah bin Abdil Mundzir, dia berkata: Bersabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya hari Jumat adalah Sayyidul Ayyam (pimpinan hari-hari), keagungannya ada pada sisi Allah, dan dia lebih agung di sisi Allah dibanding hari Idul Adha dan Idul Fitri. Padanya ada lima hal istimewa: pada hari itu Allah menciptakan Adam, pada hari itu Allah menurunkan Adam ke bumi, pada hari itu Allah mewafatkan Adam, pada hari itu ada waktu yang tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah melainkan akan dikabulkan selama tidak meminta yang haram, dan pada hari itu  terjadinya  kiamat. Tidaklah malaikat muqarrabin, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan, melainkan mereka ketakutan pada hari Jumat.”(HR. Ibnu Majah No. 1083. Ahmad No. 15547, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 4511, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 2973, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 817, Al Bazzar No. 3738. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 2279)

– Dianjurkan membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat:

عن ابي سعيد الخدري ان النبي صلى الله عليه وسلم قال مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

Dari Abu Said Al Khudri bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat, maka dia akan disinari oleh cahaya sejauh di antara dua Jumat.” (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra  No. 5792, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 3392, katanya: shahih. Dishahihkan pula oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6470)

– Dibebaskan dari fitnah kubur bagi yang wafat pada malam Jumat dan hari Jumat  

Dari Abdullah bin Amr, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah kubur. (HR. At Tirmidzi No. 1073, Ahmad No. 6582, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Aatsar No. 277)

Syaikh Al Albani Rahimahullah berkata tentang hadits ini: “Dikeluarkan oleh Ahmad (6582-6646) melalui dua jalan dari Abdullah bin Amr, dan oleh At Tirmidzi melalui salah satu dari dua jalur, dan hadits ini memiliki syawahid (beberapa penguat) dari jalur Anas, Jabir bin Abdullah, dan selain keduanya. Maka, hadits ini dengan kumpulan semua jalurnya adalah hasanatau shahih.” (Lihat Ahkamul Jazaiz, Hal. 35)

Selain disebutnya Senin, Kamis, dan Jumat, disebutkan pula oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa semua hari yang tujuh memiliki peristiwanya sendiri.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي فَقَالَ خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ وَخَلَقَ فِيهَا الْجِبَالَ يَوْمَ الْأَحَدِ وَخَلَقَ الشَّجَرَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَخَلَقَ الْمَكْرُوهَ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ وَخَلَقَ النُّورَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ وَخَلَقَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَام بَعْدَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فِي آخِرِ الْخَلْقِ فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمُعَةِ فِيمَا بَيْنَ الْعَصْرِ إِلَى اللَّيْلِ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memegang tangku lalu bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan tanah pada hari Sabtu, dan menciptakan padanya gunung-gunung pada hari Ahad, menciptakan pepohonan pada hari Senin, menciptakan sesuatu yang dibenci pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan hewan melata pada hari Kamis, menciptakan Adam ‘Alaihissalam setelah Ashar pada hari Jumat, di akhir penciptaan pada akhir waktu-waktu Jumat antara Ashar menuju malam. (HR. Muslim No. 2789)

3. Hari ‘Asyura (9 dan 10 Muharram)

Berikut ini keistimewaannya:

– Hari diselamatkannya Nabi Musa ‘Alaihissalam dan Bani Israel dari kejaran Fir’aun dan tentaranya

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فرأى اليهود تصوم عاشوراء.

فقال: ” ما هذا؟ ” قالوا: يوم صالح، نجى الله فيه موسى وبني السرائيل من عدوهم، فصامه موسى فقال صلى الله عليه وسلم: ” أنا أحق بموسى منكم ” فصامه، وأمر بصيامه

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” mereka menjawab: “Ini hari baik, Allah telah menyelamatkan pada hari ini Musa dan Bani Israel dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa.” Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Saya lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian.” Maka, beliau pun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa (‘Asyura).”(HR. Muttafaq ‘Alaih)

– Hari dianjurkannya berpuasa

Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَصَوْمُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Dan berpuasa ‘Asyura, sesungguhnya saya menduga atas Allah bahwa dihapuskannya dosa setahun sebelumnya.” (HR. Abu Daud  No. 2425, Ibnu Majah No. 1738. Syaikh Al Albani mengatakan shahih dalam Al Irwa, 4/111, katanya: diriwayatkan oleh Jamaah kecuali Al Bukhari dan At Tirmidzi Shahihul Jami’ No. 3806)

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah –setelah merangkum semua dalil yang ada tentang puasa ‘Asyura:

وعلى هذا فصيام عاشوراء على ثلاث مراتب : أدناها أن يصام وحده ، وفوقه أن يصام التاسع معه ، وفوقه أن يصام التاسع والحادي عشر والله أعلم .

“Oleh karena itu, puasa ‘Asyura terdiri atas tiga tingkatan: 1. Paling rendah yakni berpuasa sehari saja (tanggal 10). 2. Puasa hari ke-9 dan ke-10. 3.  Paling tinggi   puasa hari ke-9, 10, dan ke-11. Wallahu A’lam” (Fathul Bari, 6/280. Lihat juga Fiqhus Sunnah, 1/450)

4. Ayyamul Bidh (tanggal 13,14,15 tiap bulan Hijriyah)

Ayyamul bidh artinya hari-hari yang putih terang, karena saat itu hari di waktu bulan sedang purnama. Ini juga hari-hari istimewa dalam Islam.

– Saat itu dianjurkan bagi kita untuk berpuasa

Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata:

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

Kekasihku (Nabi) Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat kepadaku tiga hal: berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat dua rakaat ketika Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.(HR. Bukhari No. 1981, Muslim No. 721. Lafaz ini adalah milik Bukhari)

Kapankah tiga hari itu? Dari Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُومَ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ الْبِيضَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk berpuasa dalam satu bulannya sebanyak tiga hari, ayyamul bidh: tanggal 13, 14, dan 15.(HR. An Nasa’i No. 2422, 2423, lihat juga dalam As Sunan Al Kubranya An Nasa’i No. 2730, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3848, Ibnu Hibban No. 943, lihat Mawarid Azh Zham’an. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No.673)

– Nilai puasanya sama seperti puasa Ad Dahr (sepanjang tahun)

Dari Jarir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau bersabda:

صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ وَأَيَّامُ الْبِيضِ صَبِيحَةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

Berpuasa tiga hari setiap bulannya, adalah puasa sepanjang tahun, dan hari ayyamul bidh yang terang benderang itu adalah pada hari 13, 14, dan 15. (HR. An Nasa’i No. 2420. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam At Ta’liq Ar Raghib, 2/84)

5. Hari Idul Fitri (1 Syawwal) dan Idul Adha (10 Dzulhijah)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda ketika hari Id:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.”  (HR. Bukhari No. 952, Muslim No. 892)

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata:

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, dia bersabda: “Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya,  yakni hari Fithri dan hari Adha.”  (HR. An Nasa’i No. 1556, lihat juga As Sunan Al Kubra No. 1755)

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan hadits ini sanadnya shahih.   (Fathul Bari, 3/371). Syaikh Al Albani juga menshahihkannya. (Ash Shahihah No.2021)

Dua hari raya inilah hari bagi umat Islam untuk bersenang-senang dan bermain, sebagaimana yang nabi alternatifkan dalam hadits Anas bin Malik di atas.

6. Enam hari di Bulan Syawwal

Pada enam hari di bulan Syawwal kita dianjurkan untuk berpuasa setelah kita menunaikan puasa Ramadhan. Keutamaannya adalah senilai dengan puasa setahun penuh.

Dari Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian menyusulnya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan dia berpuasa setahun penuh.” (HR.  Muslim  No. 1164, At Tirmidzi  No. 759, Abu Daud  No. 2433, Ibnu Majah No. 1716, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 2866, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 8214, dan As Sunan As Shaghir No. 1119, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 3908, 3909, 3914, 3915, Abdu bin Humaid dalam Musnadnya No. 228, Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Musykilul Aatsar No. 1945, Al Baghawi dalam Syarhus SunnahNo. 1780)

Kapankah enam hari Syawwal itu? Imam At Tirmidzi Rahimahullah menceritakan:

وَاخْتَارَ ابْنُ الْمُبَارَكِ أَنْ تَكُونَ سِتَّةَ أَيَّامٍ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ قَالَ إِنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُتَفَرِّقًا فَهُوَ جَائِزٌ

Imam Ibnul Mubarak memilih berpuasa enam hari itu di awal bulan. Diriwayatkan dari Ibnul Mubarak bahwa dia berkata: “Berpuasa enam hari bulan Syawal secara terpisah-pisah boleh saja.” (Lihat Sunan At Tirmidzi komentar hadits No. 759)

Syaikh Sayyid Sabiq –Rahimahullah rahmatan waasi’ah- berkata:

وعند أحمد: أنها تؤدى متتابعة وغير متتابعه، ولا فضل لاحدهما على الاخر. وعند الحنفية، والشافعية، الافضل صومها متتابعة، عقب العيد.

Menurut Imam Ahmad: bahwa itu bisa dilakukan secara berturut-turut dan tidak berturut-turut, dan tidak ada keutamaan yang satu atas yang lainnya. Menurut Hanafiyah dan Syafi’iyah adalah lebih utama secara berturut-turut, setelah hari raya. (Fiqhus Sunnah, 1/450)

Syaikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah mengatakan:

وهذا الفضل لمن يصومها فى شوال ، سواء أكان الصيام فى أوله أم فى وسطه أم فى آخره ، وسواء أكانت الأيام متصلة أم متفرقة ، وإن كان الأفضل أن تكون من أول الشهر وأن تكون متصلة . وهى تفوت بفوات شوال .

Keutamaan ini adalah bagi yang berpuasanya di bulan Syawal, sama saja apakah di awalnya, di tengah, atau di akhirnya, dan sama pula apakah dengan hari yang berturut atau dipisah-pisah. Hanya saja lebih utama di awal bulan dan secara bersambung. Anjurannya berakhir jika sudah selesai bulan Syawal.  (Fatawa Darul Ifta Al Mishriyah, 9/261)

7. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah

Disebutkan dalam Al Quran:

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2)

Demi fajar, dan malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr (89): 1-2)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan maknanya:

والليالي العشر: المراد بها عشر ذي الحجة. كما قاله ابن عباس، وابن الزبير، ومجاهد، وغير واحد من السلف والخلف.

(Dan demi malam yang sepuluh): maksudnya adalah sepuluh hari pada Dzulhijjah. Sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, Ibnu Az Zubeir, Mujahid, dan lebih dari satu kalangan salaf dan khalaf. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/390. Dar Ath Thayyibah)

Ada juga yang mengatakan maksudnya adalah sepuluh hari awal Muharram, ada juga ulama yang memaknai sepuluh hari awal Ramadhan. Namun yang benar adalah pendapat yang pertama(Ibid)  yakni sepuluh awal bulan Dzulhijjah.

Keutamaannya pun juga disebutkan dalam As Sunnah, bahwa ibadah saat itu senilai dengan mati syahid. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

“Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini.” Mereka bertanya: “Tidak juga jihad?” Beliau menjawab: “Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun (mati syahid).”(HR. Bukhari No. 969)

Imam Ibnu Katsir mengatakan maksud dari “pada hari-hari ini” adalah sepuluh hari Dzulhijjah. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/390. Lihat Syaikh Sayyid Ath Thanthawi, Al Wasith, 1/4497. Mawqi’ At Tafasir)

8. Hari ‘Arafah (9 Dzulhijah), Hari penyembelihan qurban – Idul Adha (10 Dzulhijah), dan hari-hari taysrik (11,12,13 Dzulhijah)

Hari-hari ini dengan tegas oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disebut sebagai ‘iduna (hari raya kita).

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk Islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.”)

9. Tanggal 17 Ramadhan

Pada tanggal ini ada dua peristiwa istimewa yang terjadi sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, yakni perang Badar (disebut dengan yaumul furqaan dan yaumut taqal jam’an – hari bertemunya dua pasukan) dan turunnya Al Quran, disebut dengan wa maa anzalnaa ‘ala ‘abdinaa (dan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami).

Allah Ta’ala berfirman

و اعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آَمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, Maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, Kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, Yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Anfal (8): 41)

Imam Ibnu Jarir Rahimahullah meriwayatkan demikian:

قال الحسن بن علي بن أبي طالب رضي الله عنه: كانت ليلة “الفرقان يوم التقى الجمعان”، لسبع عشرة من شهر رمضان.

“Berkata Al Hasan bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu: Adalah ‘malam Al Furqan hari di mana bertemunya dua pasukan’ terjadi pada 17 Ramadhan.” (Jami’ Al Bayan, 13/562. Muasasah Ar Risalah)

10. Lailatul Qadar

Malam ini terjadi pada sepuluh malam terakhir, kemungkinannya pada malam-malam ganjil sebagaimana telah diketahui bersama.  Keistimewaan malam ini diterangkan dalam Al Quran:

{ إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنزلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5) }

 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr (97): 1-5)

Ada banyak keutamaan Lailatul Qadar, di sini kami sebutkan dua saja:

Pertama, malam turunnya Al Quran. Lalu bagaimana dengan 17 Ramadhan? Bukankah juga waktu diturunkannya Al Quran? Dan bukankah keduanya merupakan waktu yang berbeda?

Maka untuk mentaufiq (kompromi) antara dua keterangan ini (Lailatul Qadar dan 17 Ramadhan), sebagian ulama mengatakan Al Quran diturunkan dua kali tahap. Tahap pertama diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah  di langit dunia pada Lailatul Qadar secara langsung, tahap selanjutnya,  diturunkan dari langit dunia ke kehidupan manusia secara bertahap selama hampir 23 tahun, yang diawali pada 17 Ramadhan di Gua Hira. Inilah pendapat Ibnu Abbas.  Dengan demikian antara dua ayat ini tidak ada pertentangan sama sekali, justru saling mendukung. Inilah pendapat yang benar.

 Berkata Imam Ibnu Jarir tentang surat Al Qadar ayat 1:

إنا أنزلنا هذا القرآن جملة واحدة إلى السماء الدنيا في ليلة القَدْر

“Sesungguhnya Kami menurunkan Al Quran ini secara satu kesatuan menuju langit dunia pada Lailatul Qadar.”

Beliau mengutip dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma:

نزل القرآن كله مرة واحدة في ليلة القدر في رمضان إلى السماء الدنيا، فكان الله إذا أراد أن يحدث في الأرض شيئًا أنزله منه حتى جمعه.

“Seluruh Al Quran diturunkan  sekali turun pada  Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan menuju langit dunia, jika Allah hendak ‘berbicara’ sesuatu di bumi Dia menurunkannya sampai semuanya (lengkap).”

Beliau juga mengatakan:

نزل القرآن في ليلة من السماء العليا إلى السماء الدنيا جملة واحدة، ثم فُرِّق في السنين، وتلا ابن عباس هذه الآية:( فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ) قال: نزل متفرّقا.

“Allah menurunkan Al Quran pada malam (Al Qadar) dari langit paling tinggi menuju langit dunia dalam satu kesatuan, lalu membaginya dalam waktu bertahun-tahun.” Lalu, Ibnu Abbas membaca ayat:   “Maka aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.” Artinya: Al Quran turun secara terbagi-bagi.

Asy Sya’bi Rahiallahu ‘Anhu mengatakan:

نزل أول القرآن في ليلة القدر.

“Allah menurunkan Al Quran pertama kali pada Lailatul Qadar.”

Dari Asy Sya’bi juga:

بلغنا أن القرآن نزل جملة واحدة إلى السماء الدنيا

“Telah sampai kepada kami bahwa Al Quran diturunkan dalam satu kesatuan ke langit dunia. (lihat semua dalam   Jami’ Al Bayan, 24/531-532)

Kedua, nilai Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.

Imam Mujahid Rahimahullah berkata tentang ayat tersebut:

عملها وصيامها وقيامها خير من ألف شهر.

“Amal pada malam itu, puasanya, dan qiyamul lailnya, lebih baik (nilainya) dari seribu bulan.”

Imam Mujahid juga menjelaskan:

كان في بني إسرائيل رجل يقوم الليل حتى يصبح، ثم يجاهد العدوّ بالنهار حتى يُمْسِيَ، ففعل ذلك ألف شهر، فأنزل الله هذه الآية:( لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ) قيام تلك الليلة خير من عمل ذلك الرجل.

“Dahulu pada Bani Israil ada seorang laki-laki yang shalat malam hingga pagi hari, kemudian dia pergi jihad melawan musuh pada siang harinya hingga sore, dan dia melakukan itu hingga seribu tahun. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat ini: (Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan), qiyamul lail pada malam itu lebih baik dibanding amal laki-laki tersebut.” (Ibid)

Sementara Amru bin Qais Al Mala’i Rahimahullah berkata:

عملٌ فيها خير من عمل ألف شهر.

“Amal pada malam itu (nilainya) lebih baik dari amal seribu bulan.” (Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Quran,  24/ 533)

Demikian. Sebenarnya masih banyak waktu-waktu istimewa dalam Islam yang belum kami bahas seperti peristiwa Isra Mi’raj dan hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Insya Allah jika ada kesempatan akan kami bahas secara khusus.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Ashhabihi Ajma’in.  Wallahu A’lam

 

PARA SAHABAT

 

Feb
24

Assalamualaikum sahabat..

Saatnya kita membaca dan menyimak perkataan para sahabat Nabi SAW. Apa perkataan para sahabat beliau?? Jika ingin tau silahkan baca dan renungkan kata mutiara hikmah ini :

Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.
Saidina Ali bin Abi Talib

Kecantikan bukan terletak pada pakaian yang dipakai tetapi ia bergantung kepada keelokan akhlak dan budi pekerti. – Saidina Ali bin Abi Thalib

Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan. Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah. –Saidina Abu Bakar As-Siddiq

Alangkah buruknya kepapaan, kalau aku mengadu aku malu, kalau aku berdiam diri aku binasa –Saidina Ali bin Abi Talib

Jangan berkawan dgn orang yang tamak kerana pada zahirnya ia ingin membahagiakanmu tapi hakikatnya dia akan mencelakan . Jauhilah berteman dengan pembohong kerana ia boleh menjadikan orang yang dekat lari daripadamu dan sebaliknya .Janganlah berkawan dengan orang yang bakhil kerana ia akan melupaimu di waktu kamu sangat memerlukannya dan jauhilah bersahabat dengan orang yang suka berbuat jahat kerana ia tidak malu untuk menjualmu dengan harga yang sangat murah – Saidina Ali bin Abi Thalib

Hanya lidah yang mahu berdusta dan berbohong. Namun pandangan mata, hayunan kedua belah tangan, langkah kedua belah kaki dan pergerakan tubuh atau seluruh anggota badan akan menafikan apa yang diucapkan oleh lidah –Khalifah Ali bin Abi Talib

Jangan engkau percaya melihat kegagahan seorang lelaki. Tetapi jika mereka teguh memegang amanah dan menahan tangannya daripada menganiayai sesamanya, itulah lelaki yang sebenarnya –Khalifah Umar al-Khattab

Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya –Khalifah Ali bin Abi Talib

Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah-lembut
Saidina Umar bin Al-Khatab

Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai bila-bilapun dia tidak akan menjadi orang yang berani –Khalifah Ali bin Abi Talib

Agama buat kehidupan di akhirat, harta buat kehidupan di dunia. Di dunia orang yang tidak berharta berasa susah hati, tetapi orang yang tidak beragama merasa lebih sengsara -Saidina Abu Bakar As-Siddiq

Kekayaan yg sebenar ialah akal , kepapaan yg sebenar ialah rosak akal . Sepi yang sebenarnya ialah kagum dengan diri sendiri dan kemuliaan yang sebenar ialah akhlak yg baik. – Saidina Ali bin Abi Thalib

Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yang dapat menimbulkan persangkaan, maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk kepadanya -Saidina Umar al-Khattab

Semulia-mulia manusia ialah siapa yang mempunyai adab, merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat – Khalifah Abdul Malik bin Marwan

Banyak berhutang akan menggelincirkan orang yang benar kepada pendustaan – Saidina Ali bin Abi Thalib

Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat -Saidina Umar bin Al-Khatab

Orang berilmu lebih utama daripada orang yang selalu berpuasa, bersolat dan berjihad. Apabila mati orang yang berilmu, maka terdapat suatu kekosongan selain oleh penggantinya (yang berilmu juga) -Saidina Ali bin Abi Talib

Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki Allah pula pada yang nyata di wajahnya. -Saidina Umar bin Al-Khatab

Sesiapa yang dilantik menjadi pemimpin kepada manusia maka dia hendaklah mengajar dirinya terlebih dahulu sebelum mengajar orang lain. Dan dia hendaklah memperelokkan setiap tindak tanduknya seharian sebelum memperelokkan dengan lidah. Dan sesiapa yang mengajar dirinya sendiri serta memperelokkannya lebih layak untuk mendapat kemuliaan daripada mereka yang mengajar dan memperelokkan manusia yang lain. – Saidina Ali bin Abi Thalib

Ingin aku jadi rumput sahaja, supaya dimakan oleh kuda kerana amat ngerinya siksaan Allah- Saidina Abu Bakar As-Siddiq

Bagi setiap nikmat ada kunci yang membukanya dan ada kunci yang akan menyelaknya yang mana kunci pembukanya adalah sabar dan kunci penyelaknya adalah malas – Saidina Ali bin Abi Thalib

Kemarahan orang yang berakal dilihat pada tindak tanduknya dan kemarahan yang ada pada orang jahil itu dapat dilihat melalui perkataannya. – Saidina Ali bin Abi Thalib

Apabila kamu merasa letih kerana berbuat kebaikan maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan yang dilakukan akan terus kekal. Dan sekiranya kamu berseronok dengan dosa maka sesungguhnya keseronokan itu akan hilang dan dosa yang dilakukan akan terus kekal. -Saidina Ali bin Abi Thalib

Dua nikmat yang sering dilupakan ialah kesihatan dan keselamatan. – Saidina Ali bin Abi Thalib

Peliharalah iman kamu dengan memperbanyakkan sedekah, bentenglah hartamu dengan mengeluarkan zakat dan tolaklah gelombang bencana bala dengan sentiasa berdoa kepada Allah – Saidina Ali bin Abi Thalib

Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal, kepercayaan, cinta, dan rasa hormat. – Saidina Ali bin Abi Thalib

Keadilan itu syurga bagi orang yang dizalimi tetapi keadilan itu adalah neraka bagi orang-orang yang bersifat zalim – Saidina Umar bin Al-Khatab

Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya -Khalifah Ali bin Abi Talib

Kalau engkau berasa berkuasa untuk membuat aniaya kepada hamba Allah, ingatlah pula bahawa Allah lebih berkuasa membalasnya -Saidina Umar bin Al-Khatab

Saidina Ali berkata: Wahai manusia, jagalah wasiatku. Jika kamu memegangnya erat-erat dengan segala kesiapan sehingga kamu dapat melaksanakannya, kamu tidak akan dapat keuntungan yang lebih besar darinya. Wasiat itu adalah :
1.Hendaklah kamu tidak berharap kecuali kepada Tuhanmu.
2.Hendaklah kamu tidak takut kecuali kepada dosa-dosamu.
3.Hendaklah kamu tidak malu untuk belajar jika tidak tahu.
4.Hendaklah orang yang alim berkata : Aku tidak tahu, apabila dia memang tidak tahu.

Saidina Abu Bakar r.a berkata : Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang membinasakan, iaitu:
Ia akan mati and hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya atau;
Hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim atau;
Hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat and akan dipergunakan untuk kejahatan pula atau;
Adakalanya harta itu akan dicuri and dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak berguna .

Saidina Umar bin Al-Khatab r.a. berkata :
Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya.
Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina.
Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya.
Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.

Saidina Othman Ibnu Affan r.a. berkata : Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah:
Hatinya selalu berniat suci
Lidahnya selalu basah dengan zikrullah
Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa)
Segala perkara dihadapainya dengan sabar dan tabah
Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.

Saidina Ali r.a berkata :
Tiada solat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu.
Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia.
Tiada kebaikan bagi pembaca al-Quran tanpa mengambil pangajaran daripadanya.
Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara (memelihara diri & hati-hati dari dosa).
Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi.
Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki.
Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan.
Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya,siapa yang banyak salahnya,maka hilanglah harga dirinya,siapa yang hilang harga dirinya, berarti dia tidak wara, sedang orang yang tidak wara itu berarti hatinya mati.

Semua perangai tercela ditempatkan dalam sebuah rumah, dan kunci rumah itu adalah ketidak jujuran. -Imam Hasan Al-Askari

Islam memiliki dinding dan pintu yang kuat. Dinding Islam ialah kebenaran dan pintunya ialah keadilan.
Islam akan tetap jaya, selama penguasa-penguasa bersikap keras dan tegas, tetapi itu dilakukan tidak bererti mesti dengan pedang dan cemeti, melainkan dengan hak dan keadilan.
-Said bin Suwaid

Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi sedekah kecuali niyt yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan.
-Al-Ahnaf bin Qais

Hai anakku! Apabila perut penuh, nescaya tidurlah fikiran, bisulah ilmu hikmah dan duduklah (masalah) anggota tubuh daripada beribadah – Nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya.

Abu Laits as-Samarqandi berkata kalau seseorang itu hendak selamat dari siksa kubur hendaklah melazimkan empat perkara semuanya :
1. Hendaklah ia menjaga solatnya
2. Hendaklah dia bersedekah
3. Hendaklah dia membaca al-Quran
4. Hendaklah dia memperbanyakkan membaca tasbih kerana dengan memperbanyakkan membaca tasbih, ia akan dapat menyinari kubur dan melapangkannya.

Adapun empat perkara yang harus dijauhi ialah :-
1. Jangan berdusta
2. Jangan mengkhianat
3. Jangan mengadu-domba (jangan suka mencucuk sana cucuk sini)
4. Jangan kencing sambil berdiri

Hatim Azzahid berkata : 4 perkara yang tidak diketahui kadarnya melainkan oleh 4 perkara
1) Muda tidak diketahui kadarnya melainkan oleh orang tua
2) Kesejahteraan (kedamaian) tidak diketahui kadarnya melainkan oleh orang yang terkena bala
3) Kesihatan tidak diketahui kadarnya melainkan oleh orang yang sakit
4) Hidup tidak diketahui kadarnya melainkan oleh orang yang telah mati

Kamu menutup pintumu dan menurunkan tabirmu dan berasa malu kepada manusia tetapi tidak malu kepada Al-Quran yang ada di dadamu dan tidak malu kepada Allah yang Maha Besar yang tidak ada sesuatu yang dapat bersembunyi dariNya. – Al Fudhail bin Iyaadh

Orang yang tidur mesti dikejutkan, orang yang lupa mesti diperingatkan. Sesiapa yang tidak pernah mendapat nasihat dan peringatan maka dia sebenarnya telah mati. Peringatan itu begitu bermanfaat buat sesiapa yang menerima dengan hati yang mempunyai ciri-ciri Dan tidak diberi peringatan melainkan sesiapa yang segera bertaubat.-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad al-Husaini

Orang akan tetap menjadi ahli ilmu yang sejati selama dia masih menuntut. Tetapi apabila pada suatu ketika dia berkata Aku sudah pintar, maka sesungguhnya dia sudah menjadi bodoh dengan sendirinya. -Luqman Hakim

Siapa yang mengamalkan apa yang telah diketahui maka akan diberi taufiq untuk mencapai apa yang belum diketahui – Al-Auzaai

Siapa yang mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa Allah akan memberinya pahala untuk tiap kalimat yang diucapkannya sama dengan memerdekakan budak – Anas r.a

Manusia yang paling lemah ialah orang yang tak sanggup cari teman dan yang paling lemah daripada itu ialah orang yang mensia-siakan teman yang telah diperolehinya -Imam Al-Ghazali

Kamu tidak boleh memberi kepuasan kepada semua orang, tetapi kamu boleh memberi kepuasan kepada golongan yang berakal, beradab dan terpilih – Ibnu Maqaffa

Usaha yang halal itu lebih berat daripada memindah bukit ke atas bukit -Ibnu Abbas

Adab dan akhlak yang buruk seperti tembikar yang sudah pecah. Tidak dapat dilekatkan lagi dan tidak dapat dikembalikan menjadi tanah – Wahab Munabih

Seseorang tidak akan mencapai darjat kesolehan, kecuali melalui enam rintangan: menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan, menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesukaran, menutup pintu istirehat dan membuka pintu perjuangan, menutup pintu tidur dan membuka pintu jaga, menutup pintu kekayaan dan membuka pintu kemiskinan, menutup pintu harapan dan membuka pintu bersiap menghadapi maut -Ibrahim bin Adham

Hiduplah sesuka hatimu, sesungguhnya kamu pasti mati. Cintai siapa saja yang kamu senangi, sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya. Lakukan apa saja yang kamu kehendaki, sesungguhnya kamu akan memperoleh balasannya. Dan ingatlah bahawa bersama kesulitan itu sentiasa akan timbul kesenangan – Ibnu Abbas

Sesungguhnya yang lebih lama susahnya di dunia ialah lama gembiranya di akhirat dan lebih lama kenyang di dunia akan lebih banyak lapar di akhirat – Ibnu Asahir

Tiga macam yang tidak diketahui kecuali pada tiga macam:
1. Orang yang sabar tidak diketahui kecuali ketika marah.
2. Orang yang berani tidak diketahui kecuali ketika perang
3. Saudara tidak diketahui kecuali ketika berhajat (ada kepentingan)
-Luqman Al-Hakim

Hendaklah engkau bergaul dengan para ulama dan dengarlah (renunglah) kata-kata hukama kerana Allah SWT menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana ia suburkan bumi dengan hujan
yang lebat- Al-Hukama

Keadaan hamba ini hanya ada empat macam: Nikmat, bala, taat dan maksiat. Maka jika ada di dalam nikmat, kewajipan hamba adalah bersyukur kepada Allah dan jika menerima bala harus sabar. Dan jika dapat melakukan ketaatan harus merasa mendapat taufik hidayat dari Allah. Dan bila tergelincir dalam dosa maksiat, maka harus membaca istighfar -Abul -Abbas Al Masri

Perkataan itu seperti ubat, kalau sedikit bercakap memberi manfaat, tetapi terlalu banyak bercakap nescaya membunuh -Amru Al-As

Abu Laits berkata : Awaslah kamu dari ketawa berlebih-lebihan kerana ketawa mengandung 8 bahaya.
Tercela oleh ulama dan orang yang sopan sempurna akal.
Memberanikan orang bodoh kepadamu
Jika engkau bodoh nescaya betambah kebodohanmu dan bila engkau alim berkurang ilmumu sebab ada riwayat: Seorang alim jika ketawa beerti telah memuntahkan ilmunya.
Melupakan dosa-dosa yang lampau
Memberanikan membuat dosa di masa depan, sebab bila ketawa terbahak membekukan hatimu.
Melupakan mati dan akhirat
Engkau menanggung dosa orang yang ketawa kerana ketawamu
Ketawa terbahak-bahak itu menyebabkan banyak menangis di akhirat.

Buku adalah: Teman bicara yang tidak mendahuluimu. Teman bicara yang tidak memanggilmu ketika kamu bekerja. Teman bicara yang tidak memaksamu berdandan ketika menghadapinya. Teman hidup yang tidak menyanjungmu. Kawan yang tidak membosankan. Penasihat yang tidak mencari-cari kesalahan.
-Ahmad bin Ismail

Adakalanya seseorang melepas satu kalimat untuk mentertawakan orang-orang di sekitarnya, maka Allah murka padanya. Lalu murka Allah itu merata kepada orang-orang disekitarnya. Dan adakalanya seseorang berkata kalimat yang diredai Allah maka ia mendapat rahmat dan rahmat Allah itu merata kepada orang-orang disekitarnya. – Ibrahim Annakhai

Di antara fitnah orang yang berilmu (orang alim) ialah berkata-kata lebih disukai daripada mendengar. Padahal mendengar itu lebih selamat daripada berkata-kata kerana dalam berkata-kata orang cenderung untuk mengisi, menambah dan mengurangi -Yazid bin Abi Habib

Solat itu menghantarmu setengah jalan, puasa itu menghantarmu ke pintu kerajaan dan sedekah itu membawamu masuk ke dalamnya -Sahl bin Abdullah At-Tusturi

Ketika Haatim al-Asham datang berkunjung kepada Imam Ahmad, Imam bertanya,Beritahukan kepadaku,bagaimana caranya mencari selamat dari manusia ? Haatim menjawab, Dengan tiga hal:
1. Anda memberi harta kepada mereka, dan jangan mengambil harta mereka.
2. Berikan hak-hak mereka dan janganlah menuntut hak Anda dari mereka
3. Bersabarlah menghadapi gangguan mereka dan jangan mengganggu mereka

Siapa yang berasa senang dengan pujian orang terhadap dirinya, bererti ia telah mengizinkan syaitan untuk masuk ke dalam perutnya -Ahmad Athaillah

Berhati-hatilah kamu. Jangan sampai menulis masalah apapun dari ahlul ahwa` sedikit ataupun banyak. Dan berpeganglah dengan ahli atsar dan sunnah. -Imam Ahmad

Kunci amal-amal dunia ialah kenyang manakala kunci akhirat pula adalah lapar – Syeikh Abu Sulaiman ad-Darani

Allah mengasihani kaum yang menganggap dunia sebagai barang simpanan. Lalu mereka menyerahkannya kepada orang yang sanggup memegang amanah mereka terhadap barang simpanan tersebut. Kemudian, mereka merasa senang dengan ringannya beban -Al-Hassan Al-Bashri

Ada empat hal yang dapat mengangkat seseorang kepada darjat yang tertinggi, walaupun amal dan ibadahnya sedikit, iaitu sifat-sifat penyantun, merendah diri, pemurah dan budi pekerti yang baik. Itulah kesempurnaan iman -Abul Qasim Al-Junaid

Kaum muda membuat sejarah dengan hati mereka. Cendikiawan membuat sejarah dengan akal pikiran mereka.
Orang arif membuat sejarah dengan jiwa mereka. Apabila hati, akal dan jiwa saling menunjang untuk membuat sejarah, pasti sejarah tak akan pudar sinarnya dan tak akan padam obornya.
-Dr. Mustafa Assibai

Ilmu adalah sesuatu yang bermanfaat dan bukannya ilmu apa yang hanya dihafaz semata-mata-Imam Syafie

Barangsiapa berilmu dan beramal serta mengajar, maka orang itu pantas disebut orang besar di segala petala langit -Nabi Isa A.S

Orang kaya itu tetap tempatnya di bawah orang yang miskin baik di syurga atau neraka kecuali yang selalu bersedekah. Namun sedikit sekali yang berbuat demikian kerana syaitan merintangi mereka untuk bersedekah. – Abu Laits

Muliakanlah rakanmu dengan kemuliaan yang mampu engkau lakukannya secara berterusan. Jika tidak maka kemuliaanmu itu akan membawa kepada perkara yang memutuskan persahabatan. -Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad al-Husaini

Apabila adanya sahabat engkau datang menziarahi engkau maka jangan kamu bertanya kepadanya : Adakah engaku sudah makan? atau : Bolehkah aku menyediakan untuk engkau makanan?. Tetapi hendaklah engkau menghidangkan makanan samada dia akan makan atau jika tidak maka angkatlah makanan itu. -Imam Sufian ath-Thauri

Syaitan lebih suka untuk menyesatkan orang yang alim daripada orang jahil kerana orang alim apabila sesat maka dia akan turut menyesatkan orang lain dengan kejahilannya sedangkan orang jahil tidak begitu -Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad al-Husaini

Jangan engkau bersahabat dengan sahabat yang mana dia begitu berharap kepada engkau ketika mahu menyelesaikan masalahnya sahaja sedangkan apabila masalah atau hajatnya telah selesai maka dia memutuskan kemanisan persahabatan. Bersahabatlah dengan mereka yang mempunyai ketinggian dalam melakukan kebaikan, memenuhi janji dalam perkara yang benar, memberi pertolongan kepada engkau serta memadai dengan amanahnya atau sikap bertanggungjawabnya terhadap engkau. -Imam Umar bin Abdul Aziz

Musibah itu hanya satu bala tetapi jika orangnya mengeluh maka menjadi dua bala. Yang satu bala musibah dan yang kedua hilangnya pahala musibah itu – Abdullah bin Almubarak

Gantunglah cita-citamu di tempat yang tinggi supaya ia tidak dapat dimusnahkan oleh orang lain kerana cita-cita itu adalah sumber kekuatan perjuangan yang tidak terhingga dari segi zahir dan batinnya – Imam Abu Hanifah

Sesiapa yang merasa marah tetapi dia tidak meluahkannya maka dia seumpama keldai dan sesiapa yang merasa redha terhadap sesuatu tetapi dia tidak dapat menerimanya maka dia seperti syaitan yang mana redha dengan ketuhanan Allah tetapi tidak mahu tunduk pada perintahNya -Imam Syafie

Kebaikan itu ada pada lima perkara iaitu mampu mengawal diri, menjauhkan diri daripada menyakiti orang lain, menggunakan rezeki yang halal, berserah diri kepada Allah dan menyakini segala kekuasan Allah.-Imam Syafi

Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka ia pun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya – Sufyan Ats-Tsauri

Sekiranya manusia mengetahui keburukan percakapan dan hawa nafsu maka mereka akan melarikan diri daripada keduanya sebagaimana mereka melarikan diri dari harimau -Imam Syafi

Orang berilmu bertanya mengenai perkara yang dia sudah tahu dan perkara yang belum diketahuinya. Maka dengan cara ini dia dapat memperkemaskan ilmu yang telah ada dan dapat menimba ilmu yang belum diketahui.Orang jahil pula sentiasa menyisih diri daripada menerima pelajaran dan berhenti daripada belajar -Imam Syafi

Tiada bekal yang lebih utama daripada takwa. Tiada sesuatu yang lebih baik daripada diam. Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada kebodohan. Tiada penyakit yang lebih parah daripada berbohong. -Al-Imam Jafar Ash-Shodiq

Sesiapa yang merasa marah tetapi dia tidak meluahkannya maka dia seumpama keldai dan sesiapa yang merasa redha terhadap sesuatu tetapi dia tidak dapat menerimanya maka dia seperti syaitan yang mana redha dengan ketuhanan Allah tetapi tidak mahu tunduk pada perintahNya -Imam Syafi

Sesiapa yang memberi peringatan dan nasihat kepada rakannya dalam keadaan sembunyi maka sesungguhnya dia telah menasihati dan memperelokkannya. Sesiapa yang menasihati secara terang maka dia telah menyakiti dan mengkhianatinya. Dan bila tidak berguna nasihat secara sembunyi , maka minta tolonglah orang-orang yang baik untuk mencegahnya dari perbuatan maksiat. Maka jika tidak dikerjakan yang demikian, pasti perbuatan maksiat itu akan menjalar dan bermaharajalela sehingga menghancurkan semua – Abu Dardaa r.a

Satu dirham disedekahkan ketika masa sihat dan bakhil lebih afdal (baik) dari seratus dirham diwasiatkan ketika akan mati. – Ibnu Masud

Orang yang menzalimi diri sendiri ialah mereka yang tunduk dan patuh pada mereka yang tidak menghormatinya, mengharapkan kemanisan pada sesuatu yang tidak memberi manfaat kepadanya dan menerima pujian daripada mereka yang tidak dikenalinya -Imam Syafi

Jika engkau mendengar suatu kalimat dari seorang muslim, maka bawalah kalimat itu pada sebaik-baiknya tempat yang engkau temui. Jika engkau tak mampu untuk mendapatkan wadah tempat kalimat tersebut, maka celalah dirimu sendiri. -Al-Imam Jafar Ash-Shodiq

Jika engkau berbuat dosa, maka memohon ampunlah, karena sesungguhnya dosa-dosa itu telah dibebankan di leher-leher manusia sebelum ia diciptakan. Dan sesungguhnya kebinasaan yang dahsyat itu adalah terletak pada melakukan dosa secara terus-menerus. -Al-Imam Jafar Ash-Shodiq

Barangsiapa yang rizkinya lambat, maka perbanyaklah istighfar. Barangsiapa yang dibuat kagum oleh sesuatu dan menginginkannya demikian terus, maka perbanyaklah ucapan maa syaa-allah laa quwwata illa billah -Al-Imam Jafar Ash-Shodiq

Allah telah memerintahkan kepada dunia, Berkhidmatlah kepada orang yang berkhidmat kepadaku, dan buatlah payah orang yang berkhidmat kepadamu. -Al-Imam Jafar Ash-Shodiq

Tidaklah kebaikan itu sempurna kecuali dengan tiga hal : menganggapnya rendah (tidak bererti apa-apa), menutupinya dan mempercepatnya. Sesungguhnya jika engkau merendahkannya, ia akan menjadi agung. Jika engkau menutupinya, engkau telah menyempurnakannya. Jika engkau mempercepatnya, engkau akan dibahagiakannya. -Al-Imam Jafar Ash-Shodiq

Fugaha itu orang yang memegang amanah para rasul, selama tidak masuk ke dalam pintu-pintu penguasa. -Al-Imam Jafar Ash-Shodiq

Jika engkau menjumpai sesuatu yang tidak engkau sukai dari perbuatan saudaramu, maka carilah satu, atau bahkan sampai tujuh puluh alasan, untuk membenarkan perbuatan saudaramu itu. Jika engkau masih belum mendapatkannya, maka katakanlah, Semoga ia mempunyai alasan tertentu (kenapa berbuat demikian) yang aku tidak mengetahuinya. -Al-Imam Jafar Ash-Shodiq

Empat hal yang tidak seharusnya bagi seorang yang mulia untuk memandang rendah : bangunnya dia dari tempat duduknya untuk menemui ayahnya, berkhidmatnya dia kepada tamunya, bangunnya dia dari atas binatang tunggangannya, dan berkhidmatnya dia kepada seorang yang menuntut ilmu kepadanya. -Al-Imam Jafar Ash-Shodiq

Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat orang-orang bodoh, maka ia akan dipandang rendah. Barangsiapa yang bergaul dengan ulama, ia akan dipandang mulia. Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat kejelekan, maka ia akan dituduh melakukan kejelekan itu.-Al-Imam Jafar Ash-Shodiq

Barangsiapa yang membuka kesalahan orang lain, maka akan dibukakanlah kesalahan-kesalahan keturunannya. Barangsiapa yang menghunuskan pedang kezaliman, maka ia akan terbunuh dengannya. Barangsiapa yang menggali sumur agar saudaranya masuk ke dalamnya, maka ia sendirilah yang nanti akan jatuh ke dalamnya.- Al-Imam Jafar Ash-Shodiq

Ibrahim bin Adham berkata. Ada sepuluh hal yang membuat doa tidak dikabulkan :
1. Kalian telah mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-haknya.
2. Kalian telah membaca Al Quran tetapi tidak mengamalkan isinya.
3. Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah tetapi meninggalkan sunnahnya.
4. Kalian mengaku benci kepada syaitan tetapi tetap memenuhi ajakannya.
5. Kalian mengaku ingin masuk surga tetapi tidak memenuhi syarat-syaratnya.
6. Kelian menginginkan selamat dari api neraka tetapi kalian menjerumuskan diri kepadanya.
7. Kalian menyakini kematian merupakan suatu kepastian tetapi tidak pernah mempersiapkan diri menghadapinya.
8. Kalian sibuk mengurusi aib orang lain tetapi mengabaikan aib sendiri.
9. Setiap waktu kalian menguburkan orang yang wafat tetapi setiap itu pula kalian tak pernah mengambil pelajaran daripadanya.
10.Kalian telah menikmati kurniaan Allah tetapi kalian tidak pernah mensyukurinya.

Aku dapati bahawa manusia yang paling lama mengalami kesusahan ialah pendengki. Yang paling tenang hidupnya, orang yang qanaah. Yang paling rendah kehidupannya, mereka yang menolak dunia. Dan yang paling besar penyesalannya, orang yang berilmu yang melampaui batas -Ahli Hikmah

Sesungguhnya modal dunia ialah hawa nafsu dan keuntungannya ialah api neraka -Ahli Hikmah

Musibah manusia di dunia:
Sakit pada waktu mengembara
Miskin di hari tua
Maut pada waktu masih muda
Buta setelah melihat
Dilupakan orang setelah disanjung-sanjung -Ahli Hikmah

Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang yang tidak lekas marah, yang pemalu, yang merasa cukup, yang menjaga diri dari meminta, bapa keluarga yang bertaqwa dan Allah marah pada orang yang keji perbuatannya, buruk lidahnya, suka meminta, yang memaksa dan yang kurang cerdik -Ahli Hikmah

Ada tiga hal yang meningkatkan kemuliaan seseorang:
memaafkan orang lain dan menghilangkan bekas-bekas kesalahannya;
memberi sesuatu kepada orang lain yang tidak memberi sesuatu kepadanya;
menghubungkan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya.

Hati itu adalah tempat rahsia dan bibir itu kuncinya sementara lidah adalah anak kuncinya. Oleh itu hendaklah setiap orang menjaga anak kunci rahsianya

Waktu adalah kehidupan manusia. Jika digunakan untuk membaca akan menjadi sumber kebijaksanaan. Jika digunakan untuk berfikir akan menjadi kekuatan. Jika digunakan untuk berdoa akan menjadi keberkahan dan rahmat. Jika digunakan untuk bekerja akan menjadi keberhasilan. Jika digunakan untuk beramal akan menghantarkan menuju syurga. Semua itu adalah kewajiban seorang hamba terhadap Tuhannya. Gunakanlah waktu untuk kehidupan yang sebenarnya. Sesungguhnya kewajipan-kewajipan hamba didunia lebih banyak daripada waktu yang tersedia.

Mata yang berasal dari unsur air memiliki sifat adil. Dengan malihat sinar mata seseorang, kita boleh mengetahui isi hatinya. Mulut boleh berdusta, tetapi pancaran mata seseorang akan mengatakan yang sebenarnya memantulkan kata hati yang sesungguhnya.

Barangsiapa yang meremehkan penguasa, dia akan kehilangan dunianya. Barangsiapa yang meremehkan ulama, dia akan kehilangan agamanya. Dan barangsiapa yang meremehkan kawannya, dia akan kehilangan kemanusiannya.

Bohong, orang yang berpendapat bahwa kejahatan harus diredam dengan kejahatan, Apabila dia benar, silakan dia menyalakan dua api. Apakah api yang satu dapat memadamkan api yang lain? Yang dapat meredam kejahatan adalah kebaikan,sebagaimana air dapat memadamkan api.

Seorang alim harus mengajar dirinya sebelum mengajar orang lain, dan hendaknya mengajar dengan perilakunya sebelum mengajar dengan ucapan-ucapannya

Ibrahim bin Adham terkenal sebagai seorang yang zahid. Kata-katanya penuh dengan hikmah dan selalu dijadikan pedoman orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah. Pernah suatu ketika seorang muslim datang kepadanya meminta kepada beliau, Wahai Ibrahim, berilah kami wasiat agar seluruh kehidupan kami bermanfaat !. Maka Ibrahim Al Adham menjawab :
1. Jika engkau melihat orang-orang sibuk dengan dunia, maka sibukkanlah dirimu dengan akhirat.
2. Jika engkau melihat orang-orang sibuk dengan memperindah penampilan fizik maka sibukkanlah dirimu dengan memperindah dan mempercantikkan batinmu.
3. Jika engkau melihat orang-orang sibuk mengurus perkebunan maka sibukkanlah dirimu dengan memakmurkan kuburan.
4. Jika engkau melihat orang-orang sibuk mengabdikan diri kepada sesama manusia, maka sibukkanlah dirimu dengan mengabdikan diri kepada Rabbul Alamin.
5. Jika engkau melihat orang-orang sibuk mengatakan aib orang lain, maka sibukkanlah dirimu dengan keburukan dirimu sendiri.
6. Jadikanlah kehidupan di dunia ini sebagai taman pertanian yang akan menghantarkan engkau ke pohon raya di akhirat kelak.

Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, iaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya. -Luqman Hakim

TIGA wali Allah terkenal selepas zaman Rasulullah meninggalkan pesanan dan peringatan kepada umat Islam mengenai cara terbaik menjalani kehidupan di dunia. Mereka ialah Abu Muhammad Royam, Al-Syibli dan Hasan al-Basri.

Pesanan Abu Royam:
Ingatlah bahawa Allah menjadikan manusia untuk memperhambakan diri kepada-Nya, bukan untuk tujuan lain.
Semakin kaya orang itu, semakin jauh dia daripada Allah.
Ketika berseorangan, menangislah sambil berdoa kepada Allah agar hati menjadi bersih.

Pesanan Al-Syibli:
Sesuatu yang Allah takdirkan untukmu, pasti akan dapat walaupun terpaksa melalui seribu halangan.
Orang yang tidur satu jam pada waktu malam dengan melupakan Allah, adalah tertinggal seribu tahun ke belakang dalam perlumbaan kerohanian.
Waktu sekarang yang sedang kamu lalui lebih berharga daripada seribu tahun lalu dan seribu tahun akan datang. Untuk itu jangan terpedaya dengan kebendaan.

Pesanan Hasan:
Orang yang menggali asas dasar dunia ini dan membina bangunan akhirat di atasnya adalah orang yang bijak.
Kawan yang jahat suka merosakkan orang yang sedang menuju ke jalan Allah.
Barang siapa yang terlalu menyintai emas dan perak, dia akan dihina Allah.

10 Wasiat Luqman Hakim

1. Kamu hendaklah sentiasa berada dalam majlis para ulama dan dengarlah kata-kata para hukama(orang yang bijaksana), kerana Allah menghidupkan jiwa yang mati dengan hikmat sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan yang lebat.

2. Berkawan dan hampirilah ulama serta duduk dan ziarahilah rumah mereka agar kamu akan menjadi seumpama mereka. Sentiasalah bersama-sama mereka dan tumpanglah kebaikan mereka. Kemungkinan besar apabila Allah menurunkan kebaikan kepada mereka, kamu turut merasai nikmat itu.

3. Sekiranya engkau seorang yang soleh, jauhilah dirimu daripada orang yang buruk budi pekerti dan keras kepala kerana ditakuti apabila diturunkan bala Allah, engkau turut menjadi mangsanya. -Luqman Hakim

4. Janganlah engkau menjadi lemah daripada seekor ayam jantan, ia telah berkokok pada waktu pagi hari sedangkan engkau pada ketika itu masih terbaring di atas katilmu.

5. Jangan sekali-kali engkau menangguhkan taubat kepada Allah kerana mati itu akan datang bila-bila masa sahaja.

6. Dunia ini bagaikan lautan yang dalam yang mana sudah ramai mereka yang sudah ditenggelamkannya. Oleh itu, jadikanlah taqwa sebagai kapalnya dan iman pula sebagai air yang menyirami tanaman.

7. Pukulan bapa ke atas anaknya bagaikan air yang menyirami tanaman.

8. Tiga orang yang tidak dapat dikenali melainkan pada tiga keadaan iaitu:
a. Orang yang lemah lembut melainkan ketika marah.
b. Orang yang berani melainkan ketika berperang.
c. Saudara maramu melainkan ketika engkau berhajat dan memerlukan pertolongan daripada mereka.

9. Sesungguhnya dunia ini sedikit sahaja, sedangkan keseluruhan umurmu lebih sedikit daripada itu. Manakala umurmu yang masih lagi berbaki amat sedikit daripada yang lebih sedikit tadi.

10. Tanda-tanda seorang pendengki itu ada tiga iaitu:
a. Mengumpat kawannya apabila ketiadaan kawan mereka.
b. Memuji-muji kawannya apabila berada berasama mereka.
c. Merasa gembira jika kawannya ditimpa bala.

Wasiat Nabi junjungan kepada Saidina Ali R.A

Wahai Ali, Bagi orang mukmin ada 3 tanda-tandanya :
1) Tidak terpaut hatinya pada harta benda dunia
2) Tidak terpesona dengan pujuk rayu wanita
3) Benci terhadap perbualan dan perkataan sia-sia

Wahai Ali,
Bagi orang alim itu ada 3 tanda-tandanya :
1) Jujur dalam berkata-kata
2) Menjauhi segala yang haram
3) Merendahkan diri

Wahai Ali,
Bagi orang yang takwa itu ada 3 tanda-tandanya :
1) Takut berlaku dusta dan keji
2) Menjauhi kejahatan
3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman

Wahai Ali,
Bagi orang yang jujur itu ada 3 tanda-tandanya :
1) Merahsiakan ibadahnya
2) Merahsiakan sedekahnya
3) Merahsiakan ujian yang menimpanya

Wahai Ali,
Bagi ahli ibadah itu ada 3 tanda-tandanya :
1) Mengawasi dirinya
2) Menghisab dirinya
3) Memperbanyakkan ibadah kepada ALLAH s.w.t.

10 Wasiat As-Syahid Imam Hassan Al-Banna

1) Apabila saudara mendengar azan, maka bangunlah untuk bersolat pada waktunya walau bagaimana keadaan sekalipun.

2) Bacalah Al-Quran, atau tatapilah buku-buku, atau pergilah mendengar perkara-perkara yang baik ataupun amalkanlah Zikrullah, dan janganlah sama sekali saudara membuang masa walau sedikit pun dalam perkara-perkara yang tidak berfaedah.

3) Berusahalah seberapa daya upaya untuk bertutur dalam Bahasa Arab yang betul (Fusha), kerana bahasa Arab yg betul itu adalah merupakan syiar-syiar Islam.

4) Janganlah banyak berselisih dalam apa-apa perkara sekalipun kerana perselisihan kosong itu tidak memberi sebarang apa kebaikan jua pun.

5) Janganlah banyak ketawa, kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu, sentiasa tenang lagi tenteram.

6) Jangnlah banyak bergurau kerana umat yang sedang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh dalam setiap perkara.

7) Janganlah saudara bercakap lebih nyaring daripada kadar yang dikhendaki oleh para pendengar, kerana percakapan yang nyaring begitu adalah suatu tabiat yang sia-sia malah menyakiti hati orang lain.

8) Jauhilah daripada mengumpat-umpat peribadi orang, mengecam pertubuhan-pertubuhan lain, dan janganlah bercakap melainkan apa-apa yang boleh memberi kebajikan.

9) Berkenal-kenalanlah dengan tiap-tiap saudara seAqidah yang saudara bertemu dengannya sekalipun ia tidak meminta saudara mengenalinya; kerana asas gerakan Dakwah kita ialah berkasih sayang dan berkenal-kenalan.

10) Kewajipan-kewajipan kita lebih banyak daripada masa yang ada pada kita; oleh itu, bantulah saudaramu sendiri tentang cara-cara bagaimana hendak mengguna masa dgn berfaedah dan jika saudara mempunyai tugas sendiri maka segerakanlah perlaksanaannya.

Imam al-Ghazali pernah berwasiat agar ditinggalkan 4 perkara bagi menjaga keelokan akhlak iaitu :

1. Janganlah kamu suka berbahas dengan seseorang mengenai sesuatu perkara seboleh yang mungkin kerana ia lebih banyak mendatangkan keburukan berbanding kebaikan. Ia adalah punca akhlak buruk seperti riya, hasad dengki, bermusuhan, bangga diri dan sebagainya. Jika terpaksa juga berbahas maka kamu mesti mempunyai 2 tanda pada niat dalam hatimu iaitu :

a. Kamu mengakui sesuatu kebenaran tidak kira ia berada di sebelah kamu atau pihak lain
b. Kamu lebih suka mencari kelemahan dirimu daripada mencari kelemahan orang lain

2. Elakkan dirimu daripada menjadi pendakwah yang mengajak kepada kebaikan sekiranya kamu sendiri belum melaksanakannya

3. Jangan bergaul dengan pemimpin atau pembesar yang zalim malah jika boleh jangan berjumpa dengan mereka kerana lebih banyak padahnya daripada faedah

4. Jangan menerima sebarang pemberian daripada golongan pembesar walau pun kamu tahu pemberian itu adalah daripada sumber yang halal kerana dibimbangi kamu akan terhutang budi sehingga takut untuk menegur kesalahannya

Imam al-Ghazali pernah berpesan agar dilakukan 4 perkara berikut agar dapat cantikkan akhlak iaitu :

1. Bermuamalat atau berurusanlah dengan Allah sebagaimana kamu suka orang bawahanmu berurusan denganmu. Kami tidak berasa bingung atau marah dengannya. Apa yang kamu tidak suka dilakukan oleh orang bawahanmu maka Allah juga tidak suka perlakuan sedemikian kerana Allah itu adalah Tuhanmu yang hakiki

2. Setiap kali kamu bekerja dengan orang lain maka perbuatlah sebagaimana kamu mahu diperbuat ke atas dirimu kerana tidak sempurna keimanan seseorang itu selagi dia tidak suka orang lain memperolehi sesuatu yang dia sendiri menyukainya

3. Sekiranya kamu hendak mempelajari sesuatu maka pilihlah ilmu yang dapat memperbaiki hati dan menghidupkan jiwamu. Sekiranya kamu tahu umurmu hanya tinggal seminggu sahaja lagi nescaya kamu hanya mempelajari ilmu untuk mengawasi hatimu dan berusaha melepaskan diri daripada belenggu dunia

4. Jangan mengumpul harta dunia lebih daripada keperluanmu untuk tempoh setahun kerana Rasulullah s.a.w sendiri hanya menyediakan bekalan terhadap isteri-isteri baginda untuk tempoh sehari setengah sahaja.

10 Pesanan Untuk Nabi Musa

ABUL-LAITS Assamarqandi meriwayatkan kepada sanadnya daripada Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah bersabda bermaksud: Allah telah memberikan kepada Nabi Musa bin Imran pesanan dalam 10 perkara:

1. Wahai Musa jangan menyekutukan Aku dengan suatu apa pun bahawa Aku telah memutuskan bahawa api neraka akan menyambar muka orang Musyrikin.

2. Taatlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu nescaya Aku peliharamu daripada sebarang bahaya dan akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku hidupkan kamu dengan penghidupan yang baik.

3. Jangan sekali-kali membunuh jiwa yang Aku haramkan kecuali dengan hak nescaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang luas dan langit dengan semua penjurunya dan akan kembali engkau dengan murka-Ku ke dalam api neraka.

4. Jangan sekali-kali sumpah dengan nama-Ku dalam dusta atau durhaka sebab Aku tidak akan membersihkan orang yang tidak menyucikan Aku dan tidak mengagung-agungkan nama-Ku.

5. Jangan hasad dengki dan iri hati terhadap apa yang Aku berikan kepada orang lain, sebab penghasut itu musuh nikmat-Ku, menolak kehendak-Ku, membenci kepada pembahagian yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku dan sesiapa yang tidak meninggalkan perbuatan itu, maka bukan daripada-Ku.

6. Jangan menjadi saksi terhadap apa yang tidak engkau ketahui dengan benar-benar dan engkau ingati dengan akalmu dan perasaanmu sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka.

7. Jangan mencuri dan jangan berzina dengan isteri jiran tetangga sebab nescaya Aku tutup wajah-Ku daripadamu dan Aku tutup pintu-pintu langit daripadanya.

8. Jangan menyembelih korban untuk selain daripada-Ku sebab Aku tidak menerima korban kecuali yang disebut nama-Ku dan ikhlas untuk-Ku.

9. Cintailah terhadap sesama manusia sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri.

10. Jadikan Sabtu itu hari untuk beribadat kepada-Ku dan hiburkan anak keluargamu. Kemudian Rasulullah bersabda lagi: Sesungguhnya Allah menjadikan hari Sabtu itu hari raya untuk Nabi Musa dan Allah memilih hari Jumaat sebagai hari raya untukku.

Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya, niscaya Allah akan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya kelak pada hari kiamat. Sinarnya lebih bagus dari sinar matahari yang menyusupi rumah-rumah di dunia. Sekiranya (matahari) itu di dalam rumah kalian, bagaimanakah menurut kalian terhadap orang yang mengamalkan (Al Qur’an)?” (HR Abu Dawud dari Muadz bin Anas)

MUJAHADAH DAN SABAR

Artinya: “Apakah kalian mengira masuk surga, padahal Allah belum mengetahui siapa di antara kalian orang-orang yang bersungguh-sungguh dan bersabar.”(Qs Ali Imron: 142)
Siapa yang tidak mau masuk surga? Setiap kita tentu ingin sekali memasukinya. Tapi, sebelumnya berbicara panjang lebar tentang surga beserta kenikmatan abadinya kita perlu bertanya, “Apa itu surga?” Untuk siapa ia diciptakan oleh Allah?”
Di dunia ini, setiap orang ingin hidup bahagi, senang, damai dan penuh kesejahteraan. Jauh dari hiruk-pikuk yang bisa mengganggu ketenangannya. Tapi, itu mungkin hanya sekedar keinginan dan angan-angan saja. Karena memang di dunia ini tidak ada yang namanya ketenangan dan kedamaian sejati dan selamanya, selain keimanan yang bersemayan di dalam dada orang yang beriman.
Meski banyak orang yang merasa bahagia dan sudah terlalu enak di dunia ini karena kemewahan hidup dan kekayaannya yang luar biasa, tetap saja masih perasaan itu masih labil bahkan rentan mengalami kesulitan dalam hidup apabila semua yang ia miliki itu tiba-tiba harus lenyap. Karena memang sifat dunia itu hanya sementara, tidak abadi dan pasti akansirna suatu saat.
Jadi, memahami karakter dunia, kenikmatan dan kefanaan alam semesta ini harus benar-benar kita pahami bersama.
Ayat di atas Allah bertanya kepada manusia, apakah manusia mengira bahwa dirinya akan masuk surga yang penuh dengan kenikmatan, padahal Allah belum tahu sejauh mana bekal yang sudah dipersiapkan untuk memasukinya. Hakikatnya lafaz ‘Allah belum tahu‘ bukanlah makna sebenarnya, karena Allah pasti mengetahui segala sesuatunya di alam semesta ini, baik yang kecil sampai yang besar, yang tersembunyi ataupun yang tak terlihat mata manusia, yang dahulu, sekarang dan yang akan datang, sampai kapan pun. Tapi lafaz ini menggunakan singgungan logika manusia bahwa jangan terlalu berangan-angan masuk surga kalau sudah mati kelak, sementara belum ada sesuatu yang paling berharga yang bisa dipersembahkan untuk Allah swt.
Makanya Allah ingin tahu dahulu apakah prasyarat mujahadah (kesungguh-sungguhan) dan kesabaran itu sudah terpatri di alam kenyataan ataukah belum?
Apa makna mujahadah di sini? Mujahadah adalah simbol jihad, kesungguh-sungguhan, keseriusan dan penuh perhitungan dalam beramal shaleh. Surga itu sangat nikmat, penuh kedamaian dan ketenangan. Namun, ia pasti mahal dan tidak mudah digapai. Tapi bukan berarti tidak mungkin untuk digapai. Karena simpel saja bahwa siapa yang ingin masuk surga maka ia harus beramal. Beramal pun bukan amal yang sembarangan dan asal-asalan tanpa aturan. Tapi amal yang telah diperintahkan oleh Allah dan dicontohnya oleh Rasulullah sebagai suri keteladanan. Ya itulah mujahadah. Bagaimana kita serius meneladani ajaran beliau, perjuangan beliau, dakwah beliau dan jejak kepribadian beliau semuanya. Mujahadah juga dalam arti bagaimana mengimplementasikan amaliyah yaumiyyah beliau dalam kehidupan kita sehari-hari yang berbeda dengan situasi dan kondisi zaman beliau.
Di sini berarti kita harus sungguh-sungguh mempelajari Islam sesuai dengan kondisi zaman dan keadaan di mana kita hidup. Bermujahadah menuntut ilmu, mujahadah mengenal lingkungan dan lain sebagainya.
Sabar, dalam arti bersabar dalam keseriusan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan. Karena sifat serampangan tidak akan memberikan manfaat apa-apa selain keteledoran yang akan mengantarkan kepada salah kaprah dalam pengamalan. Dan itu bukan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Banyak sekali zaman sekarang mujahadah dan kesabaran ini hilang dari praktek keseharian umat Islam. Kemalasan, kesantaian dan memanjakan diri sendiri dengan menunggu ’emas’ dari langi menjadi habit mayoritas orang Islam. Padahal dahulu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi saja Rasulullah harus berjuang dengan cara berbisnis.
Ada lagi sifat ketidaksabaran dalam segala hal misalnya. Betapa banyak orang yang kurang sabar dalam keseharian. Tidak sabar dalam ibadah, inginnya cepat-cepat selesai dalam shalat, tanpa mengikuti rukun dan kewajiban yang telah diajarkan. Apalagi bisa khusyu. Tidak sabar dalam menunggu antrean, tidak sabar dalam menunggu hasil yang memuaskan dan lain sebagainya. Nah di sini, mujahadah adalah sebagai saudara dari kesabaran. Karena untuk bisa sabar menghadapi orang lain yang berbeda karakter dengan kita juga butuh mujahadah. Dan itu memang tidak mudah dilakukan tanpa latihan yang kontinyu.

Bahkan dalam surat lain, disebutkan bahwa syarat masuk surga yang harus dilakukan di dunia ini adalah adanya realitas ujian dan cobaan dari Allah berupa tribulasi hidup dan tantangan perjuangan. Lihat saja bagaimana para nabi dan rasul diuji dalam hidupnya demi tegaknya risalah Allah di atas bumi ini. (Qs al-Baqoroh: 214)

Jadi, syarat masuk surga tidak dengan mengurusi hal-hal yang kecil lagi remeh-temeh. Tapi berjuang demi tegaknya dinullah ini. Meyakini bahwa cobaan hidup dan tribulasi dakwah merupakan keniscayaan bagi orang-orang muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan hari kiamat. Sekali lagi, bukan dengan cara mengurusi hal-hal yang sunnah lalu melupakan hal-hal yang wajib. Ini karena Allah menyukai hal-hal yang besar dari amal orang yang beriman. Karena agenda besar Allah bagi mereka yang beriman ada pada penegakkan khilafah di bumi dan berukhuwwah dalam mengamalkannya.

Diharapkan impian kita untuk bisa masuk surga bisa terukur dengan tekad yang kuat untuk berlaku mujahadah dan sabar dalam segala hal. Termasuk di dalamnya sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah yang memang demikian banyak, sabar dalam meninggalkan dosa dan kemaksiatan. (Qs al-Ankabut: 2-3) Karena jujur saja, ketika umat dihadapkan dengan perintah maka itu mudah dilakukan dengan setengah hati. Tapi ketika dihadapkan dengan perintah meninggalkan larangan, maka hal itu sangat sulit sekali.

Begitu pula sabar dalam menghadapi cobaan hidup yang memang bagian dari karakter dunia yang harus dihadapi oleh kita sebagai seorang muslim dan muslimah.

Jadi marilah kita lebih mengenal karakter mujahadah dan kesabaran dalam hidup sehingga kita mengamalkannya dengan baik dan berhak mendapatkan janji masuk surga yang Allah janjikan, Amiin.

hadist qudsiy

Definisi

Secara bahasa (Etimologis), kata القدسي dinisbahkan kepada kata القدس (suci). Artinya, hadits yang dinisbahkan kepada Dzat yang Maha suci, yaitu Allah Ta’ala.
Dan secara istilah (terminologis) definisinya adalah
ما نقل إلينا عن النبي صلى الله عليه وسلم مع إسناده إياه إلى ربه عز وجل
Sesuatu (hadits) yang dinukil kepada kita dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam yang disandarkan beliau kepada Rabb-nya.
Perbedaan Antara Hadîts Qudsiy Dan al-Qur`an
Terdapat perbedaan yang banyak sekali antara keduanya, diantaranya adalah:
  • Bahwa lafazh dan makna al-Qur`an berasal dari Allah Ta’ala sedangkan Hadîts Qudsiy tidak demikian, alias maknanya berasal dari Allah Ta’ala namun lafazhnya berasal dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam.
  • Bahwa membaca al-Qur`an merupakan ibadah sedangkan Hadîts Qudsiy tidak demikian.
  • Syarat validitas al-Qur’an adalah at-Tawâtur (bersifat mutawatir) sedangkan Hadîts Qudsiy tidak demikian.

Jumlah Hadîts-Hadîts Qudsiy

Dibandingkan dengan jumlah hadits-hadits Nabi, maka Hadîts Qudsiy bisa dibilang tidak banyak. Jumlahnya lebih sedikit dari 200 hadits.
Contoh:
Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim di dalam kitab Shahîh-nya dari Abu Dzarr radliyallâhu ‘anhu dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam pada apa yang diriwayatkan beliau dari Allah Ta’ala bahwasanya Dia berfirman,
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan zhalim atas diri-Ku dan menjadikannya diantara kamu diharamkan, maka janganlah kamu saling menzhalimi (satu sama lain).” (HR.Muslim)

Lafazh-Lafazh Periwayatannya
Bagi orang yang meriwayatkan Hadîts Qudsiy, maka dia dapat menggunakan salah satu dari dua lafazh-lafazh periwayatannya:
 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه عز وجل
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam pada apa yang diriwayatkannya dari Rabb-nya ‘Azza Wa Jalla
 قال الله تعالى، فيما رواه عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم
Allah Ta’ala berfirman, pada apa yang diriwayatkan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam dari-Nya

SYA’BAN

Asal penamaan Bulan Sya’ban

Nama “Sya’ban” diambil dari kata “Sya’bun” yang artinya ‘kelompok’ atau ‘golongan’. Dinamakan “sya’ban” karena pada bulan ini, masyarakat jahiliah terpisah menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan.

Hadis Shahih Seputar Bulan Sya’ban

  1. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha; beliau mengatakan, “Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa,’ dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan, ‘Beliau tidak melakukan puasa.’ Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban. (HR. Al Bukhari & Mulim)
  2. Aisyah mengatakan, “Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
  3. Aisyah mengatakan, “Saya pernah memiliki utang puasa Ramadan, dan saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
  4. Aisyah mengatakan, “Bulan yang paling disukai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan puasa adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau lanjutkan dengan puasa Ramadan.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanadnya dinilai sahih Syekh Syu’aib Al Arnauth)
  5. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Abu Daud, At Turmudzi, Ibnu Majah, dan dinilai sahih Al Albani)
  6. Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan, “Saya belum pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberpuasa dua bulan berturut-turut selain di bulan Sya’ban dan Ramadan.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, At Turmudzi dan dinilai sahih Al Albani)
  7. Dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syekh Al Albani)
  8. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari. Kecuali orang yang sudah terbiasa puasa sunnah, maka silahkan dia melaksanakannya.” (HR. Al Bukhari & Muslim)
  9. Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluqnya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dinilai sahih oleh Al Albani)

Hadis dhaif seputar Sya’ban

  1. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Puasa sunah apakah yang paling utama setelah Ramadan?” Beliau bersabda: “Sya’ban, dalam rangka mengagungkan Ramadan ….” (HR. At Turmudzi dari jalur Shadaqah bin Musa. Perawi ini disebutkan oleh Ad Dzahabi dalam Ad Dhu’afa, beliau mengatakan, “Para ulama mendhaifkannya.” Hadis ini juga dinilai dhaif oleh Al Albani dalam Al Irwa’)
  2. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengtakan, “Suatu malam, saya kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya cari keluar, ternyata beliau di Baqi’ … Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala turun pada malam pertengahan bulan Sya’ban ke langit dunia. Kemudian Dia mengampuni dosa yang lebih banyak dari pada jumlah bulu kambingnya suku Kalb.’” (HR. Ahmad, At Turmudzi, dan dinilai dhaif oleh Imam Al Bukhari dan Syekh Al Albani)
  3. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika masuk malam pertengahan bulan Sya’ban maka shalatlah di siang harinya. Karena Allah turun ke langit dunia ketika matahari terbenam. Dia berfirman, ‘Mana orang yang meminta ampunan? Pasti Aku ampuni. Siapa yang minta rezeki? Pasti Aku beri rezeki. Siapa …? sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah. Di dalam sanadnya terdapat Ibnu Abi Subrah. Ibnu Hajar mengatakan, “Para ulama menuduh beliau sebagai pemalsu hadis.” Hadis ini juga dinilai dhaif oleh Syekh Al Albani)
  4. Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku. (Riwayat Abu Bakr An Naqasy. Al Hafidz Abul Fadhl Muhammad bin Nashir mengatakan: An Naqasy adalah pemalsu hadis, pendusta. Ibnul Jauzi, As Shaghani, dan As Suyuthi menyebut hadis ini dengan hadis maudhu)
  5. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil: Hai Ali, siapa yang shalat seratus rakaat di malam pertengahan bulan Sya’ban, di setiap rakaat membaca Al Fatihah dan surat Al Ikhlas sepuluh kali. Siapa saja yang melaksanakan shalat ini, pasti Allah akan penuhi kebutuhannya yang dia inginkan ketika malam itu …. (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2:127-128, As Suyuthi dalam Al-Lali’ Al mashnu’ah, 2/57 – 59, dan ulama pakar hadis lainnya)
  6. Barang siapa yang melaksanakan shalat pada pertengahan bulan Sya’ban dua belas rakaat, di setiap rakaat dia membaca surat Al Ikhlas tiga kali maka sebelum selesai shalat, dia akan melihat tempatnya di surga. (Hadis palsu, disebutkan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2:129 Ibnul Qayyim dalam Manarul Munif, hal. 99, dan dinyatakan palsu oleh pakar hadis lainnya)

Amalan sunah di Bulan Sya’ban

Pertama, memperbanyak puasa sunnah selama bulan Sya’ban

Ada banyak dalil yang menunjukkan dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan sya’ban. Di antara hadis tersebut adalah:

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa,’ dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan, ‘Beliau tidak melakukan puasa.’ Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Aisyah juga mengatakan, “Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Hadis-hadis di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, yang tidak terdapat di bulan yang lain.
Ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini. Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dinilai hasan oleh Syekh Al Albani)

Kedua, memperbanyak ibadah di malam nishfu Sya’ban

Ulama berselisish pendapat tentanga status keutamaan malam nishfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut ini keterangannya:

Pendapat pertama, tidak ada keuatamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan, “Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah – dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban– mengatakan, ‘Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban.”” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hlm. 33)

Syekh Abdul Aziz ben Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan nishfu Saya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At Tahdzir min Al Bida’, hal. 11)

Pendapat Kedua, ada keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluqnya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dinilai sahih Al Albani)

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syekhul Islam mengatakan, “… Pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam madzhab hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in ….” (Majmu’ Fatawa, 23:123)

Ibnu Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu ….” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 247)

Kesimpulan:
Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

  1. Nishfu Sya’ban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadis sebagaimana yang telah disebutkan. Meskipun sebagian ulama menyebut hadis ini hadis yang dhaif, namun insya Allah yang lebih kuat adalah penilaiannya Syekh Al Albani bahwa hadis tersebut statusnya shahih.
  2. Tidak ditemukan satupun riwayat  yang menganjurkan amalan tertentu ketika nishfu Sya’ban. Baik berupa puasa atau shalat. Hadis di atas hanya menunjukkan bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam nishfu sya’ban, kecuali dua jenis manusia yang disebutkan.
  3. Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan banyak beribadah? Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama Tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam nishfu Sya’ban untuk beribadah adalah bid’ah.
  4. Ulama yang membolehkan memperbanyak amal di malam nishfu Sya’ban, mereka menegaskan bahwa tidak boleh mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendirian di malam ini. Karena tidak ada amalan sunnah khusus di malam nishfu Sya’ban. Sehingga, menurut pendapat ini, seseorang dibolehkan memperbanyak ibadah secara mutlak, apapun bentuk ibadahnya.

Amalan bid’ah di Bulan Sya’ban

Ada banyak bid’ah yang digelar ketika bulan Sya’ban. Umumnya kegiatan bid’ah ini didasari hadis-hadis dhaif yang banyak tersebar di masyarakat. Terutama terkait dengan amalan nishfu sya’ban. Berikut adalah beberapa kegiatan bid’ah yang serinng dilakukan di bulan Sya’ban.

Pertama, Shalat sunnah berjamaah atau mengadakan acara khusus di malam nishfu sya’ban

Terdapat hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban. Namun tidak ditemukan satupun hadis shahih yang menyebutkan amalan tertentu di bulan Sya’ban. Oleh karena itu, para ulama menegaskan terlarangnya mengkhususkan malam nishfu Sya’ban untuk melaksanakan ibadah tertentu.

Kedua, Shalat Alfiyah

Manusia pertama yang membuat bid’ah shalat Alfiyah di malam nishfu Sya’ban adalah seseorang yang bernama Ibn Abil Hamra’, yang berasal dari daerah Nablis, Palestina. Dia datang ke Baitul Maqdis pada tahun 448 H. Dia memiliki suara bacaan Al Qur’an yang sangat merdu. Ketika malam nishfu Sya’ban, dia shalat dan diikuti oleh seseorang di belakangnya sebagai makmum. Kemudian makmum bertambah tiga, empat,..hingga sampai selesai shalat jumlah mereka sudah menjadi jamaah yang sangat banyak.

Kemudian di tahun berikutnya, dia melaksanakan shalat yang sama bersama jamaah yang sangat banyak. Kemudian tersebar di berbagai masjid, hingga dilaksanakan di rumah-rumah, akhirnya jadilah seperti amalan sunnah. (At Tahdzir Minal Bida’, karya At Turthusyi, hlm. 121 – 122).

Tata caranya

Shalat ini dinamakan shalat alfiyah, karena dalam tata caranya terdapat bacaan surat Al Ikhlas sebanyak seribu kali. Di baca dalam seratus rakaat. Tiap rakaat membaca surat Al Ikhlas sebanyak 10 kali. (Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 149)

Semua ulama sepakat bahwa shalat Alfiyah hukumnya bid’ah.

Ketiga, Tradisi Ruwahan-sadranan (selamatan bulan di Sya’ban)

Tradisi ini banyak tersebar di daerah jawa. Terutama jawa tengah dan jogjakarta. Mereka menjadikan bulan ini sebagai bulan khusus untuk berziarah kubur dan melakukan selamatan untuk masyarakat kampung. Pada hakekatnya tradisi ini merupakan warisan agama hindu-animisme-dinamisme. Sehingga bisa kita tegaskan hukumnya terlarang, karena kita dilarang untuk melestarikan adat orang kafir.